Life StyleOlahragaWisata

Lintas Sentul 2026, Menaklukkan “Neraka” Hijau di Jantung Bogor

Sabtu pagi, 10 Januari 2026 pukul 05:00, kawasan Sentul tidak seperti biasanya. Udara dingin yang menusuk tulang di titik start Paseban menjadi saksi bisu berkumpulnya ratusan pelari dengan wajah penuh ambisi di lomba lari Lintas Sentul 2026 yang dibalut tema “Feel The Jungle”.

Event yang diinisiasi oleh KORMI Kabupaten Bogor bersama Camp De Katarina ini berhasil menarik animo luar biasa. Dibandingkan dengan Lintas Sentul 2025 tahun lalu, penyelenggaraan kali ini terasa lebih matang namun jauh lebih menantang dari sisi teknis rute.

Dengan kategori mulai dari 5K, 10K, 21K, hingga yang paling bergengsi 36K, Lintas Sentul 2026 mengukuhkan posisinya sebagai kiblat baru bagi para pecinta trail run di Indonesia dan mancanegara.

Gempuran Tanjakan Tanpa Ampun

Tepat pukul 05.00 WIB, bendera start untuk kategori 36K dikibarkan. Beberapa pelari elit dan komunitas, termasuk Rawi, Rudhenk, dan Salman dari rombongan TDARunners ikut melewati garis start di pagi hari yang dingin.

Baru saja meninggalkan garis start, para peserta langsung “dihajar” oleh tanjakan yang seolah tak berujung. Menurut catatan teknis rute, pelari harus melahap elevasi konstan selama 7 kilometer pertama menuju puncak Gunung Kencana.

lintas sentul 2026
Suasana hutan Sentul saat diselimuti kabut. (Rawi)

Namun, kejutan sesungguhnya di Lintas Sentul 2026 dimulai setelah melewati puncak. Panitia tahun ini benar-benar mengeksplorasi 80% jalur baru yang jarang terjamah oleh pelari lain.

Jalur menuju Rawa Gede, Sukamakmur, menjadi momok bagi banyak pelari. Hujan deras yang mengguyur sehari sebelumnya mengubah trek tanah menjadi bubur lumpur yang dalam.

Bertahan di Tengah Kepungan Lumpur dan Kabut

“Jalurnya nggak kalah pedes, apalagi becek dan berubah jadi lumpur. Sangat susah untuk didaki, apalagi dilariin,” ujar Rawi, salah satu pelari kategori 36L. Fenomena ini merata. Teknik lari konvensional hampir tidak berguna di sini. Para pelari lebih banyak melakukan manuver bertahan agar kaki tidak “ambles” tertelan lumpur, kecuali bagi atlet berpengalaman yang bisa finish dalam waktu 6 jam dari COT 12 Jam.

Melewati kawasan Rawa Gede, rute membawa pelari masuk kembali ke lebatnya hutan kopi menuju Cisadon via Leuwi Hejo. Di sinilah daya tahan mental diuji secara brutal. Jarak 7 kilometer dari Leuwi Hejo ke Cisadon terasa seperti puluhan kilometer.

lintas sentul 2026
612657875_18415456498139487_8301268139168490060_n
previous arrow
next arrow

Kombinasi hujan angin, kabut tebal yang memangkas jarak pandang hingga hanya 2-3 meter, serta jalur yang licin membuat Lintas Sentul Trail Run 2026 ini layak disebut sebagai salah satu race terberat di awal tahun.

Sisi Lain: Semangat “Bounce Back” di Kategori 10K

Sementara drama terjadi di kategori 36K, kemeriahan tak kalah seru terlihat di kategori 10K. Nama-nama seperti Azzi, Jaelani, Maaz, Rizky, Kohir, Dasuki, Syauqi, Aziz, Dafi, Doel, Faisal, Agus Ali terlihat bersemangat menaklukkan jalur yang relatif lebih pendek namun tetap menantang.

“Race perdana di 2026 ikut Lintas Sentul Trail Run, alhamdulillah finish strong dan utamanya finish happy,” kata Dafi sambil menyeka keringat dengan raut wajah puas.

Menariknya, bagi Dafi dan kawan-kawan, berlari di alam bukan cuma soal medali. “Semoga happy-nya ikut race awal tahun ini jadi energi positif untuk jalanin bisnis di 2026. Setelah 2024 bisnis tumbang, 2025 mode survival, waktunya 2026 BOUNCE BACK!” tambahnya penuh optimisme.

Sentimen ini rupanya menjadi napas utama di Lintas Sentul 2026. Event ini bukan sekadar mengejar catatan waktu, melainkan perayaan atas ketangguhan diri setelah melewati tahun-tahun sulit pasca-pandemi dan fluktuasi ekonomi.

lintas sentul 2026
Dafi meluapkan kegembiraan di garis finish. (Dafi)

Teknis Lapangan dan Perjuangan Melawan COT

Kembali ke rute 36K, perjuangan menuju garis finish di Paseban menjadi klimaks yang mendebarkan. Setelah berputar di kebun kopi Cisadon, pelari dihadapkan pada bukit terjal terakhir sejauh 5 kilometer. Marshall di Badeur lake Cisadon memperkirakan waktu tempuh sekitar 1 jam untuk segmen ini, namun realita di lapangan berkata lain.

Vegetasi yang rapat, akar pohon yang menyembul, serta bebatuan licin memaksa detak jantung (heart rate) para pelari melonjak drastis. Beberapa pelari harus berhenti berkali-kali hanya untuk menormalkan napas. Mendekati batas Cut Off Time (COT), suasana berubah tegang.

Beberapa pelari senior melakukan last push di 3 kilometer terakhir. Meskipun sepatu sudah penuh beban lumpur dan pijakan sangat licin, adrenalin mengalahkan rasa lelah. Keberhasilan mereka menyentuh garis finish sebelum waktu habis menjadi pemandangan yang mengharukan sekaligus membanggakan bagi warga Kabupaten Bogor yang menonton.

Lomba Lintas Sentul 2026 berhasil menaikkan standar lomba trail run di Indonesia. Sinergi antara keindahan alam dengan pengelolaan event yang profesional menjadikannya sebuah paket lengkap.

Beberapa Poin Lintas Sentul 2026 Mendapatkan Rating Tinggi Tahun Ini:

  1. Variasi Rute: Perpaduan antara hutan, kebun kopi, sungai, dan perbukitan terjal.

  2. Keterlibatan Lokal: Pemberdayaan masyarakat di sepanjang jalur lari meningkatkan ekonomi lokal.

  3. Standar Keamanan: Marshall yang sigap di titik-titik rawan meski cuaca sedang ekstrem serta marking yang jelas dan rapat.

Jika Anda melewatkan keseruan di Lintas Sentul 2025 atau tahun ini, pastikan nama Anda terdaftar di edisi berikutnya. Event ini membuktikan bahwa raga mungkin bisa lelah, namun semangat untuk menaklukkan alam akan selalu menemukan jalannya.

Lintas Sentul 2026 telah usai, namun cerita tentang lumpur, kabut, dan semangat “bounce back” para pelarinya akan tetap bergema di jalur-jalur setapak Bogor hingga tahun-tahun mendatang. Sampai jumpa di garis start berikutnya!.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button