Tidak Ada Jemaah Umrah Kotim Kalteng Tertahan di Arab Saudi, 40 Orang Akan Pulang Besok 4 Maret 2026

Kabupaten Kotim Tidak Ada Jemaah Umrah yang Tertahan di Arab Saudi
Di tengah situasi geopolitik yang memanas akibat konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, kabar baik datang dari Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah. Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kankemenhaj) Kabupaten Kotim, Tiariyanto, memastikan hingga saat ini tidak ada laporan jemaah umrah Kotim yang tertahan di Makkah maupun Madinah.
“Untuk jemaah umrah asal Kotim yang berangkat melalui PPIU di bawah binaan kami, sampai saat ini tidak ada laporan penundaan kepulangan ataupun keberangkatan,” ujar Tiariyanto saat dikonfirmasi, Selasa (3/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa informasi tersebut diperoleh dari Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) atau biro travel yang wajib melaporkan setiap keberangkatan melalui aplikasi Siskopatu sebelum jemaah diberangkatkan.
Jemaah Kotim Kembali Sesuai Jadwal
Sebanyak 40 jemaah asal Kotim yang berangkat pada 22 Februari 2026 melalui PT DHS telah kembali sesuai jadwal pada 4 Maret 2026. Jumlahnya terdiri dari 22 laki-laki dan 18 perempuan. Mereka tidak tertahan dan pulang sesuai jadwal.
Jemaah tersebut menggunakan penerbangan langsung dari Jeddah ke Indonesia tanpa transit di negara yang tengah berkonflik. Menurut Tiariyanto, potensi keterlambatan umumnya dialami oleh jemaah yang menggunakan maskapai dengan rute transit di negara terdampak konflik.
“Kalau menggunakan penerbangan langsung seperti Garuda, Saudi Airlines, atau Lion Air yang tidak transit di negara konflik, relatif aman. Karena langsung dari Jeddah ke Indonesia,” ungkapnya.
Biro Travel Umrah di Kotim
Di Kotim sendiri terdapat 13 biro travel umrah yang berizin. Namun, dari jumlah tersebut, hanya dua travel yang rutin melaporkan setiap keberangkatan secara aktif ke Kankemenhaj. Meski demikian, seluruh PPIU tetap wajib menginput data keberangkatan melalui aplikasi Siskopatu.
“Kalau tidak terisi di Siskopatu, jemaah tidak bisa berangkat. Itu sistemnya sudah terintegrasi,” tegasnya.
Jumlah Jemaah Umrah dan Hajis
Terkait jumlah jemaah, Tiariyanto menyebutkan bahwa sepanjang 2025 lalu tercatat sebanyak 216 jemaah haji asal Kotim yang berangkat dan tercatat resmi melalui pelaporan. Sedangkan jemaah umrah mencapai 1.000 lebih.
Imbauan dari Kementerian Haji dan Umrah
Mengingat situasi geopolitik yang masih memanas, Kementerian Haji dan Umrah pusat melalui Wakil Menteri telah mengeluarkan imbauan agar calon jemaah mempertimbangkan penundaan keberangkatan hingga kondisi di Timur Tengah kembali normal.
“Ini sifatnya imbauan. Kalau bisa ditunda sampai situasi benar-benar pulih. Tapi kalau tetap berangkat, sebaiknya memilih penerbangan langsung tanpa transit di negara konflik,” katanya.
Kondisi Arab Saudi dalam Konflik
Tiariyanto mengakui, kondisi ini bisa saja memengaruhi minat masyarakat untuk berangkat umrah. Namun di sisi lain, Arab Saudi tidak terlibat langsung dalam konflik tersebut.
“Arab Saudi bukan bagian dari konflik. Pintu masuk jemaah dunia ke Makkah dan Madinah tetap melalui Jeddah. Selama negara terkait tidak merespons secara frontal, dampaknya bisa jadi tidak terlalu signifikan,” jelasnya.
Imbauan kepada Masyarakat
Ia pun mengimbau masyarakat agar memastikan keberangkatan melalui biro travel resmi dan memantau perkembangan situasi sebelum mengambil keputusan.
“Yang penting pastikan travelnya berizin dan melapor resmi. Jangan tergiur harga murah kalau rutenya transit di negara yang berisiko,” pungkasnya.










