
Insight, Bericuan.id – Pada tahun 1926, seorang ulama Muhammadiyah bernama H. Hanad menulis dengan tajam, kritiknya di majalah Soeara Moehammadijah. Ia menyoroti kebiasaan tradisi lebaran umat Islam yang merayakan Idul Fitri dengan berlebihan—membeli pakaian mahal, menghamburkan uang, dan berpelesir hanya untuk memamerkan kekayaan.
Menurutnya, perayaan Lebaran seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat iman dan kepedulian sosial, bukan ajang konsumsi dan kemewahan semu. Kritik H. Hanad terasa seperti suara nurani yang merindukan makna sejati dari hari kemenangan setelah Ramadan.
Sekitar dekade yang sama, Snouck Hurgronje— orientalis Belanda yang menjadi penasihat pemerintah kolonial (sekaligus mungkin dianggap ulama oleh sebagian pribumi pada masa itu)—juga mencatat fenomena yang mirip-mirip.
Dalam laporan yang tercatat pada “Nasihat-nasihat C Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya Kepada Pemerintah Belanda“, ia mengamati bahwa masyarakat pribumi, terutama kelas bawah, mulai meniru gaya hidup elite saat Lebaran. Elite yang dimaksud adalah pejabat pribumi. Kedua, elite yang dimaksud adalah orang-orang kulit putih Eropa. Meski tradisi mengenakan baju baru telah ada sejak masa kesultanan Banten pada 1596, tetapi hanya terbatas pada sarung dan peci baru. Pada masa 1920an, baju baru telah berubah menjadi sepatu lancip, celana dan pakaian ala Eropa.
Tradisi Lebaran Konsumtif di Masyarakat
Mereka membeli pakaian dan sepatu baru tadi, untuk berusaha tampil layaknya kaum terpelajar, meski kondisi ekonominya terbatas. Sang Orientalis sendiri, meski tidak mengutuk, menyebut kebiasaan ini sebagai bentuk pemborosan dan imitasi sosial yang tidak rasional. Ia melihat Lebaran bukan hanya sebagai perayaan religius, tapi juga momen di mana struktur sosial dan identitas ditampilkan secara mencolok.
Menurut Snouck, orang kelas bawah pribumi bahkan rela berhutang di luar batas kemampuannya dan menghabiskan tabungannya, demi penampilan di hari lebaran.
Dalam pandangan orang Eropa pada umumnya, Idul Fitri juga dirayakan oleh hampir semua kalangan umat Islam. Baik yang taat dan saleh, maupun setengah taat dan jarang ibadah, atau yang tak taat, tak puasa, tak sembahyang sekalipun.
Para priayi dan pejabat pamongpraja merasa perlu ikut besembahyang id bersama rakyat segala lapisan, untuk sekedar menunjukkan identitas keislaman mereka. Pendeknya, berlebaran telah menjadi ajang unjuk penampilan dan status sosial. Setelah hampir 1 abad, kritik dari 2 orang yang secara latar belakang berbeda ini, terasa masih sangat relevan.
Meskipun tentu saja, tidak semua yang berlebaran dengan standar mewah bermaksud pamer. Misal memang seseorang punyanya mobil, butuhnya kendaraannya mobil (karena anaknya banyak misalnya), kerjanya juga harus pakai mobil, ya mudik juga pakai mobil. Kalau kebeneran mobilnya mewah, itu bonus. Lagipula, standar mewah orang kan berbeda-beda.
Namun, tradisi lebaran konsumtif dan kecenderungan show off saat Lebaran kelihatannya bisa terus mengalami daur ulang, dalam kemasan yang lebih modern. Konsumsi apapun yang meningkat drastis, rental kebutuhan gaya hidup (yang menjadi simbol kemewahan dan kesuksesan), berlebihan dalam konsumsi makanan saat berlebaran, sesaknya pusat perbelanjaan, terasa lebih ramai daripada ajaran kesahajaan.
Padahal, dikabarkan saat ini daya beli sedang menurun. Seperti gambaran kebiasaan dahulu : yang biasanya cukup berlebaran dengan sarung dan peci baru, demi mendekatkan ke-eropa-annya, memaksakan diri membeli lagi celana dan sepatu.
Kritik dari H. Hanad dan pengamatan Snouck Hurgronje mungkin bisa jadi bahan renungan, minimal untuk diri sendiri : jangan sampai kita tidak benar-benar meraih kemenangan.
Selamat Idoel Fitri 1446 H.
Lutfiel Hakim – Praktisi Bisnis. (*)










