
Menyentuh garis finish sebuah ultra marathon adalah pencapaian, tetapi menaklukkan ultra marathon pertama Anda? Itu adalah sebuah kelahiran kembali. Inilah yang dirasakan Andrew, seorang pelari ultra marathon pemula, setelah menuntaskan Siksorogo Lawu Ultra (SLU) 2025 kategori 50K.
Bukan hanya jarak 50 kilometer yang berhasil ia tuntaskan, melainkan 16 jam perjuangan, keyakinan, dan pertempuran batin yang terekam jelas di setiap pijakan kakinya.
Andrew menyebutnya bukan tentang menantang gunung. “Saya belajar bahwa gunung tidak pernah menantang kita—kita sendirilah yang sedang diuji oleh hidup,” ujarnya. Kalimat itu bukan sekadar diksi puitis, melainkan ringkasan dari pengalaman pahit manis yang ia lalui di medan tempur dengan elevasi mencapai 3.700 meter.
Andrew mengakui, perjalanan ultra ini bukan tanpa drama. Setelah berlari, berjalan, dan berhenti, meyakinkan diri bahwa menyerah bukan pilihan, titik kritis datang tak terhindarkan.
“Di Km 16, antara WS Tlogo Dringo menuju Basecamp Cemoro Kandang, kaki mulai memberontak,” kenangnya.
Sebuah serangan kram yang masif merayap dari paha kanan, lalu menjalar dengan brutal ke paha kiri. Seketika, Andrew merasakan setiap langkahnya berubah menjadi penderitaan. Rasanya seperti membawa beban yang tidak terlihat—beban fisik, mental, dan mungkin juga luka lama yang ia bawa.
Di momen ini, ego Andrew diiris habis. Ia yang datang dengan dua kali pengalaman mencoba rute 30K, datang ke 50K dengan rasa takut yang sama besarnya dengan mimpi yang ingin ia raih. Di tengah rasa sakit itu, sebuah realisasi datang: perjalanan ultra marathon bukan hanya tentang kuatnya otot, tetapi seberapa kuat hati bertahan.
Inilah nilai jual dari sebuah ultra: ia memaksa Anda untuk melihat diri sendiri secara jujur. Andrew menyadari, pelari ultra marathon sejati adalah dia yang mampu berdialog dengan rasa sakit dan memilih untuk tetap bergerak.
Pelari Ultra Marathon Pantang Menyerah
Beruntung, Andrew tidak berjalan sendiri. Ia telah melewati tiga bulan persiapan intensif di bawah arahan Coach Yusuf Aprian. Program latihan, ritme lari, strategi, hingga “coretan-coretan kecil di sepanjang perjalanan,” semua itu menjadi jangkar yang menuntun Andrew tetap waras dan bergerak.
Andrew kini memahami pentingnya sebuah strategi terencana untuk menjadi pelari ultra marathon. Di tengah rasa sakit kram yang parah, pegangan pada rencana latihan itulah yang menyelamatkannya dari jurang Did Not Finish (DNF).
“Setiap tanjakan seperti mengangkat luka lama, setiap turunan seperti mengajarkan cara melepaskan,” kata Andrew, menggunakan metafora yang kuat untuk menggambarkan proses pendakian dan penurunan. Ultra marathon memang lebih dari sekadar lari; ini adalah terapi berjalan.
Senyum di Garis Finish Mepet Cut-Off Time
Selama hampir 16 jam, Andrew terus bergerak, didorong oleh tekad dan dukungan dari partner in crime serta para best supporters yang mengikutinya. Pikirannya terus berjuang, mencoba mencari alasan untuk berhenti, namun hatinya menolak.
Lalu, sebuah faktor eksternal datang sebagai penentu: cuaca. “Siapa yang menyangka hujan turun pagi menuju siang? Andaikan hujannya datang dari siang menuju sore, melewati turunan Cetho itu rasanya mustahil akan tiba tepat pada waktunya,” tuturnya.
Kehadiran hujan di waktu yang ‘tepat’ ternyata menjadi pertolongan Ilahi. Andrew menyentuh garis finish Siksorogo Lawu Ultra 50K dengan mepet cut-off time. Ketika itu terjadi, senyum kecil mengembang di wajahnya. Senyum itu bukan karena ia cepat, tetapi karena ia bertahan.
Ia kembali diingatkan pada filosofi mendalam para pelari ultra marathon sejati: manusia hanya bisa merencana dan berjuang—namun Allah-lah yang menentukan perjalanan ini. Kadang hidup memang bukan tentang siapa yang paling dulu sampai. Tetapi siapa yang memilih terus melangkah, meski hatinya hampir menyerah—seraya percaya bahwa Allah selalu punya cara untuk menolong di waktu yang tepat.
Pengalaman ini menumbuhkan keyakinan baru: bahwa manusia bisa lebih kuat dari apa yang ia kira. Andrew, sang pelari ultra marathon pemula, telah menyelesaikan race pertamanya dan sudah mempunyai bekal pengalaman yangsangat berharga untuk race ultra berikutnya.
Ia tidak hanya berhasil mengalahkan jarak, tetapi juga mengalahkan rasa takut dan keterbatasan dirinya sendiri.
Kisah Andrew ini bukan sekadar laporan finish sebuah perlombaan, melainkan sebuah testimonial kuat tentang ketahanan mental, pentingnya strategi pelatihan, dan bagaimana setiap langkah, walau terasa berat, adalah sebuah pelajaran berharga.
Ini adalah kisah yang wajib didengar oleh setiap calon pelari ultra marathon atau siapa pun yang sedang menghadapi tanjakan terberat dalam hidup mereka.











