
Bisnis, Bericuan.id – Berbekal pengetahuan dari bangku sekolah, Herno Nurmanto berhasil menciptakan mesin pembuat tusuk sate modern1https://www.koranmemo.com/daerah/pr-1923898424/berkah-melimpah-bisnis-tusuk-sate-warga-pogalan-berbekal-pengalaman-dan-ilmu-di-bangku-sekolah yang mendatangkan keuntungan finansial signifikan. Mesin rakitan ini telah membantu mengembangkan bisnis tusuk sate-nya secara signifikan, sehingga membawa perubahan besar bagi perekonomian keluarganya.
Herno, yang dikenal akrab dengan sebutan tersebut, adalah seorang pebisnis tusuk sate berpengalaman. Ia telah merasakan berbagai liku-liku dalam bisnis kerajinan bambu ini.
Kesuksesannya saat ini bukanlah hasil dari proses yang instan, melainkan melalui perjalanan panjang yang penuh tantangan.
Bisnis tusuk sate yang digeluti oleh Herno memiliki perjalanan yang cukup panjang. Dia merupakan salah satu perajin dari beberapa pengusaha tusuk sate di Desa/Kecamatan Pogalan.
Memulai usaha dari daerah yang terkenal sebagai penghasil tusuk sate, usahanya berjalan cukup lancar, meskipun pada awalnya belum mencapai potensi maksimal.
Salah satu hambatan yang dihadapi Herno adalah proses produksi yang masih dilakukan secara manual, sehingga kapasitas produksi belum optimal.
Ia terus memikirkan cara untuk meningkatkan jumlah produksi tanpa mengurangi kualitas tusuk sate yang dihasilkan.
“Karena masih dilakukan secara manual sehingga terkendala untuk produksi dalam jumlah banyak,” jelas Herno.
Pada tahun 2012, berbekal pengalaman dan ilmu dari pendidikan di jurusan perbengkelasan, Herno memutuskan untuk merakit mesin pemoles lidi pertama kali. Inspirasi yang ia dapat dari alat pembuat dupa diwujudkan dengan bantuan saudaranya.
Dia melihat peluang besar di bisnis tusuk sate karena banyak warga yang masih menjalankan usaha lidi dan tusuk sate secara manual.
“Saya dibantu saudara yang bekerja di bengkel las untuk membuat mesin rakitan itu,” tambahnya.
Dengan modal sebesar Rp 75 juta untuk membuat mesin rakitan tersebut, Herno memulai usaha dari jasa pemolesan lidi sebelum akhirnya beralih menjadi pengusaha tusuk sate.
Tidak butuh waktu lama, mesin rakitannya menarik perhatian pelaku usaha lainnya. Banyak warga yang menggunakan jasanya dengan biaya Rp 500 per kilogram.
“Usaha itu berjalan lancar, meskipun hasilnya belum begitu besar,” jelasnya.
Sebagai pengusaha tusuk sate, Herno memiliki peralatan yang cukup lengkap, mulai dari pemotong lidi, pembulat, irat bambu, pemoles hingga peruncing.
Semua mesin tersebut adalah hasil dari pengetahuannya di bidang perbengkelan las. Perkakas inilah yang menemani Herno dalam produksi sehari-hari.
“Tahun pertama membuka usaha tusuk sate, produksinya tidak sebanyak sekarang. Dulu dalam sehari hanya bisa menghasilkan 20 sampai 25 kilogram,” ujar Herno.

Bisnis Tusuk Sate Terhenti Saat Pandemi Covid-19
Herno kemudian menambah jumlah mesin rakitannya hingga tiga set. Alhasil, jumlah produksinya meningkat drastis, dalam sehari bisa mencapai 2 sampai 3 kuintal.
Satu kilogram tusuk sate ayam terdiri dari 1100 hingga 1200 batang, sementara tusuk sate daging berisi 850 hingga 900 batang yang dijual dengan harga Rp 14 hingga 15 ribu per kilogram. Namun, bisnis tusuk sate-nya sempat terhenti akibat pandemi Covid-19.
Ia mengaku bahwa saat itu usahanya benar-benar terhenti hampir dua bulan. Pembatasan perjalanan di berbagai daerah mengganggu aktivitas penjualannya.
Herno pun dibuat pusing dengan kondisi tersebut, yang secara signifikan mengubah perekonomiannya.
“Pedagang dari Jawa Tengah sempat tidak bisa masuk ke Trenggalek. Begitu pun saya juga tidak bisa masuk ke wilayah Kediri,” ujarnya.
Namun, Herno tidak menyerah dengan keadaan. Ketika permintaan dari para pedagang mulai sepi, ia memutuskan untuk turun langsung memasarkan produknya.

Berbagai pasar hingga toko-toko ia kunjungi satu per satu. Upayanya mendapatkan sambutan baik di pasaran.
Selain menghasilkan pendapatan, hasil gerilyanya juga memperluas jaringan bisnisnya. Jaringan yang luas berimbas pada peningkatan skala produksi tusuk sate Herno.
Kini dalam seminggu, ia bisa menyuplai kebutuhan pasar hingga 4 sampai 8 ton. Kondisi ini membuatnya merangkap sebagai pedagang dan produsen tusuk sate.
“Saya banyak mengambil barang setengah jadi dan jadi untuk dijual kembali,” tambahnya.
Keuntungan pun berdatangan seiring kerja kerasnya. Pada periode tertentu, omzet dari bisnis tusuk sate penjualannya pernah mencapai hingga Rp 80 juta per bulan.
Ia tidak menyangka bahwa pengalaman yang ia dapat dari bangku sekolah ditambah dengan kemampuan melihat peluang bisnis yang tepat mampu mengubah perekonomian keluarganya.
“Ada banyak jenis tusuk sate, seperti tusuk sempol, papeda, cilok, dan lain-lain. Namun, yang paling banyak diminati adalah tusuk sate ayam dan daging,” pungkasnya.
Sumber Rujukan :
- 1https://www.koranmemo.com/daerah/pr-1923898424/berkah-melimpah-bisnis-tusuk-sate-warga-pogalan-berbekal-pengalaman-dan-ilmu-di-bangku-sekolah







