Tiga Isu Sosial dalam Drama Bon Appetit, Your Majesty: Kental Patriarki

Menggali Pesan Sosial dalam Drama Fantasi Romantis Bon Appetit, Your Majesty
Drama fantasi romantis Bon Appetit, Your Majesty tidak hanya menyajikan kisah cinta yang memikat dan tampilan visual yang menarik. Di balik cerita yang menghibur, drama ini juga menyelipkan isu-isu sosial penting yang masih relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini. Dengan latar kerajaan yang megah dan karakter-karakter yang kuat, penonton bisa merenungkan berbagai masalah nyata yang tersembunyi di balik alur cerita.
Kesenjangan Sosial dan Kekuasaan
Latar belakang kerajaan dalam drama ini secara alami menciptakan perbedaan yang jelas antara bangsawan dan rakyat biasa. Terdapat adegan yang menunjukkan bagaimana para warga kecil kesulitan mendapatkan makanan, sementara di istana, meja makan penuh dengan hidangan lezat yang melimpah. Hal ini menggambarkan realitas distribusi sumber daya yang tidak merata, yang masih terjadi hingga hari ini.
Di dunia modern, kita masih melihat bagaimana sebagian orang hidup dalam kemewahan, sedangkan sebagian lainnya kesulitan memenuhi kebutuhan pokok. Melalui drama ini, penonton diingatkan bahwa ketidakadilan sosial bukanlah masalah masa lalu, tetapi masih menjadi tantangan besar di era sekarang.
Patriarki terhadap Perempuan
Salah satu tokoh utama dalam drama ini adalah Ji Yeong (Yoona), yang memiliki keahlian luar biasa dalam memasak. Namun, karena ia seorang perempuan, kemampuannya sering dianggap remeh. Bahkan, saat ia ditunjuk sebagai kepala chef di dapur kerajaan, para koki senior meragukan kemampuannya. Mereka hanya melihat pekerjaannya sebagai “memasak di dapur”, tanpa menyadari bahwa masakannya memiliki dampak besar, bahkan bisa memengaruhi keputusan seorang raja.
Melalui karakter Ji Yeong, drama ini mengajak penonton untuk merenungkan posisi perempuan dalam struktur kekuasaan yang patriarkial. Ketidakadilan yang dialaminya mencerminkan perjuangan yang masih relevan hingga hari ini, di mana perempuan seringkali dianggap kurang mampu dalam bidang tertentu meskipun memiliki bakat dan kemampuan yang luar biasa.
Tradisi vs Modernitas
Kerajaan dalam drama ini identik dengan aturan-aturan yang kaku, termasuk dalam hal makanan yang harus mengikuti resep tradisional. Namun, Ji Yeong hadir dengan ide-ide baru yang lebih segar dan kreatif. Meski awalnya menimbulkan konflik karena dianggap melanggar aturan istana, ide-ide ini akhirnya membawa perubahan yang positif.
Hal ini mencerminkan realitas yang masih relevan: bagaimana kita sering terjebak antara mempertahankan tradisi atau menerima inovasi. Drama ini mengajarkan bahwa perubahan memang sulit, tetapi sering kali diperlukan agar bisa berkembang dan bertahan di tengah dinamika zaman.
Menyaksikan Lebih Dalam
Jika kamu menonton drama ini, jangan hanya menikmati romansa dan elemen fantasi yang menarik. Coba renungkan pesan-pesan sosial yang terselip di setiap adegan. Siapa tahu, kamu akan mendapatkan wawasan baru yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, penonton tidak hanya sekadar menghibur diri, tetapi juga belajar dari cerita yang disampaikan.










