Mencari ikigai karier: kunci kebahagiaan dan makna dalam pekerjaan

Mungkin kamu pernah merasakan “Sunday Night Blues”? Itu lho, perasaan cemas, gelisah, atau bahkan sedikit mual setiap Minggu malam karena sadar besok sudah Senin dan harus kembali bekerja. Atau mungkin, kamu sering merasa seperti robot? Bangun pagi, menembus macet, duduk di kubikel selama delapan jam, pulang, tidur, dan mengulanginya lagi besok. Rasanya hidup berjalan autopilot tanpa tujuan yang jelas.
Jika kamu pernah atau sedang merasakannya, tos dulu, kamu nggak sendirian. Banyak dari kita yang terjebak dalam rutinitas pekerjaan yang sekadar “menghasilkan uang” tapi terasa kosong di dalam. Kita bekerja keras, tapi di penghujung hari, kita bertanya-tanya: “Sebenarnya apa sih yang sedang aku kejar?”
Di tengah hiruk-pikuk tuntutan dunia kerja modern yang seringkali bikin stres, muncul sebuah konsep dari Jepang yang kembali populer beberapa tahun terakhir: Ikigai. Konsep ini sering digadang-gadang sebagai resep rahasia umur panjang dan kebahagiaan masyarakat Jepang, khususnya di Okinawa.
Namun, pertanyaannya sekarang, apakah konsep filosofis ini bisa diterapkan secara praktis di dunia profesional kita yang keras? Mari kita bedah bersama soal Ikigai karier ini. Apakah pekerjaanmu saat ini sebenarnya sudah sejalan dengan tujuan hidupmu, atau justru makin menjauh?
Mari kita ngobrol santai tapi mendalam soal ini. Siapkan kopimu, kita akan menyelami apa itu Ikigai dan bagaimana cara mengecek apakah “kompas” kariermu sudah mengarah ke sana.
Apa Itu Ikigai? Bukan Sekadar Tren Keren-kerenan di LinkedIn
Mungkin kamu sering melihat diagram Venn dengan empat lingkaran yang saling beririsan di media sosial, dengan tulisan “Ikigai” di tengahnya. Itu adalah representasi paling populer dari konsep ini.
Secara harfiah, “iki” berarti kehidupan, dan “gai” berarti nilai atau hasil. Jadi, Ikigai bisa diartikan sebagai “alasan kita bangun di pagi hari” atau nilai yang membuat hidup kita layak dijalani. Ini adalah tentang menemukan tujuan hidup yang memberikan kepuasan mendalam, bukan sekadar kesenangan sesaat.
Dalam konteks karier, Ikigai bukanlah tentang menemukan satu pekerjaan ajaib yang sempurna tanpa cela. Ini adalah tentang menemukan titik keseimbangan (sweet spot) di mana empat elemen kunci bertemu. Jika kamu bisa menemukan irisan dari keempat hal ini dalam pekerjaanmu, selamat! Kamu kemungkinan besar sudah menemukan Ikigai kariermu.
Mari kita lihat empat pilar tersebut:
- What You Love (Apa yang Kamu Cintai): Ini bicara soal passion. Apa kegiatan yang bikin kamu lupa waktu saat melakukannya? Apa topik yang bikin matamu berbinar saat membicarakannya?
- What You Are Good At (Apa Keahlianmu): Ini bicara soal profesi atau skill. Apa bakat alamimu, atau keterampilan apa yang sudah kamu asah bertahun-tahun sehingga kamu menjadi ahli di bidang itu?
- What The World Needs (Apa yang Dunia Butuhkan): Ini bicara soal misi atau kontribusi. Apakah pekerjaanmu memberikan dampak positif bagi orang lain, komunitas, atau lingkungan? Apakah ada masalah di dunia ini yang bisa kamu bantu selesaikan?
- What You Can Be Paid For (Apa yang Bisa Menghasilkan Uang): Ini bicara soal vokasi atau pekerjaan. Realistis saja, kita butuh bayaran untuk hidup layak. Apakah keahlian dan passion-mu itu punya nilai ekonomi di pasar kerja saat ini?
Mengapa Kita Sering Merasa “Salah Jurusan” di Dunia Kerja?
Masalah terbesar banyak pekerja saat ini adalah ketidakseimbangan dalam empat pilar di atas. Seringkali, kita hanya fokus pada dua lingkaran: apa yang kita bisa (skill) dan apa yang menghasilkan uang (gaji).
Kita mengambil jurusan kuliah tertentu karena “katanya” prospek kerjanya bagus. Kita melamar kerja di perusahaan A karena gajinya besar, meskipun sebenarnya kita tidak suka dengan jenis pekerjaannya. Akibatnya? Kita punya uang, kita punya jabatan, tapi kita kehilangan kebahagiaan di tempat kerja. Kita merasa kosong karena elemen passion dan misi (kontribusi pada dunia) terabaikan.
Di sisi lain, ada juga yang terlalu idealis mengejar passion tanpa memikirkan realitas pasar. Misalnya, seseorang sangat suka melukis abstrak (passion), dan dia jago (keahlian). Tapi, jika pasar saat itu tidak membutuhkan lukisan abstraknya dan dia tidak bisa memonetisasinya, dia akan kesulitan secara finansial. Ini juga bukan Ikigai yang berkelanjutan, melainkan sekadar hobi yang mahal.
Ikigai karier yang sejati adalah tentang menyelaraskan passion dan profesi agar keduanya bisa berjalan beriringan, memberikan kepuasan batin sekaligus keamanan finansial.
Empat Pertanyaan Kunci untuk Mengecek Ikigai Kariermu
Nah, sekarang saatnya melakukan audit pada pekerjaanmu saat ini. Coba duduk tenang sejenak dan jawab empat pertanyaan ini dengan jujur. Jangan khawatir, nggak ada jawaban benar atau salah, ini untuk refleksi dirimu sendiri.
Apakah saya mencintai pekerjaan saya saat ini?
Kalau jawabannya “Kadang-kadang”, itu wajar. Nggak ada pekerjaan yang 100% menyenangkan setiap detik. Tapi coba lihat gambaran besarnya. Apakah secara umum kamu antusias mengerjakan tugas-tugasmu? Atau kamu lebih sering merasa terbebani? Jika kamu sering merasa terpaksa, mungkin elemen passion di kariermu sedang defisit.Apakah saya benar-benar ahli dalam apa yang saya kerjakan?
Apakah kamu merasa kompeten? Apakah rekan kerja atau atasan sering meminta pendapatmu karena mereka percaya pada keahlianmu? Jika kamu merasa stuck dan tidak berkembang, ini tanda kamu perlu melakukan pengembangan diri karier. Ikigai menuntut pertumbuhan yang konstan, bukan stagnasi.Apakah pekerjaan saya memberikan dampak positif bagi orang lain?
Ini mungkin bagian yang paling tricky. Dampak positif tidak harus berarti kamu harus bekerja di LSM atau menjadi dokter yang menyelamatkan nyawa setiap hari. Seorang akuntan yang teliti bisa membantu perusahaan menghindari kebangkrutan, yang artinya menyelamatkan nasib ratusan karyawan lain. Seorang desainer grafis bisa membuat informasi rumit menjadi mudah dipahami masyarakat luas. Cobalah lihat big picture dari peranmu. Siapa yang terbantu dengan hasil kerjamu? Menemukan makna ini krusial untuk merasakan kepuasan mendalam.Apakah saya dibayar dengan layak untuk kontribusi saya?
Ini pertanyaan pragmatis tapi penting. Jika kamu mencintai pekerjaanmu, jago melakukannya, dan bermanfaat bagi dunia, tapi gajimu tidak cukup untuk membayar tagihan dasar, kamu akan tetap stres. Ikigai juga mencakup kesejahteraan finansial. Jika kamu merasa undervalued, mungkin saatnya negosiasi gaji atau mencari peluang di tempat lain yang lebih menghargai keahlianmu.
Realita di Lapangan: Ikigai Adalah Perjalanan, Bukan Tujuan Akhir
Setelah menjawab pertanyaan di atas, mungkin kamu sadar bahwa pekerjaanmu saat ini belum memenuhi keempat kriteria Ikigai secara sempurna. Mungkin kamu hanya memenuhi tiga, atau bahkan cuma dua.
Tenang, jangan panik dan langsung resign besok pagi.
Penting untuk diingat bahwa menemukan Ikigai adalah sebuah proses perjalanan yang dinamis, bukan sebuah garis finis. Preferensi kita berubah, kebutuhan pasar berubah, dan skill kita pun berkembang. Apa yang menjadi Ikigai-mu di usia 25 mungkin berbeda saat kamu berusia 40 tahun.
Ada kalanya kita harus berkompromi. Mungkin saat ini pekerjaan utamamu adalah sumber penghasilan (lingkaran “paid for” dan “good at”), sementara passion dan kontribusi sosialmu kamu salurkan melalui kegiatan di luar jam kerja atau side hustle.
Misalnya, kamu bekerja sebagai staf administrasi di siang hari untuk membayar cicilan, tapi di akhir pekan kamu menjadi relawan mengajar anak jalanan (passion & mission) atau menjadi fotografer lepas (passion & skill).
Ini adalah bentuk keseimbangan kerja dan hidup yang realistis. Jangan membebani satu pekerjaan untuk memenuhi seluruh kebutuhan eksistensialmu. Jika pekerjaan utamamu belum bisa menjadi Ikigai yang utuh, kamu bisa merakit Ikigai-mu dari beberapa aktivitas yang berbeda.
Langkah Kecil Menyelaraskan Karier dengan Ikigai
Jika kamu merasa kariermu saat ini melenceng jauh dari Ikigai, ada beberapa langkah kecil yang bisa kamu mulai hari ini:
- Ubah Perspektif (Job Crafting): Cobalah temukan makna baru dalam tugas-tugas lamamu. Fokus pada siapa yang terbantu oleh pekerjaanmu, sekecil apapun itu.
- Investasi pada Skill Baru: Jika kamu merasa passion-mu ada di bidang lain, mulailah pelajari skill yang dibutuhkan di bidang tersebut di waktu luangmu. Jangan terburu-buru loncat kapal sebelum punya pelampung.
- Eksperimen Kecil: Jangan cuma dipikirkan di kepala. Coba lakukan proyek kecil-kecilan yang berhubungan dengan minatmu. Lihat apakah kamu benar-benar menyukainya saat itu menjadi “pekerjaan”, bukan sekadar hobi.
Mulailah Mendengarkan Diri Sendiri
Ikigai karier bukanlah tentang mencari pekerjaan yang sempurna, melainkan tentang menyelaraskan siapa dirimu dengan apa yang kamu lakukan setiap hari. Ini adalah kompas yang membantumu menavigasi lautan dunia kerja yang seringkali membingungkan.
Ketika kariermu sejalan dengan Ikigai, bekerja tidak lagi terasa seperti beban yang berat. Senin pagi tidak lagi menakutkan, dan kamu akan menemukan energi ekstra untuk terus berkembang dan memberikan dampak.
Perjalanan menemukan Ikigai mungkin panjang dan berliku, tapi percayalah, ini adalah perjalanan yang layak untuk ditempuh demi hidup yang lebih utuh dan memuaskan.





