Ngaji Santuy: Bolehkah Tidak Berpuasa Saat Travelling? Ini Penjelasan Ustadzah Ika

Puasa di Bulan Ramadan Saat Musafir: Aturan dan Ketentuan dalam Islam
Puasa di bulan Ramadan merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilakukan oleh umat Muslim. Namun, terkadang banyak orang merasa lelah atau tidak mampu menjalankan puasa karena sedang melakukan perjalanan jauh. Pertanyaannya adalah, apakah boleh seseorang tidak berpuasa saat sedang musafir?
Menurut penjelasan dari Ustadzah Ika Irayana MPd, dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari, dalam Islam hal tersebut diperbolehkan dengan beberapa ketentuan. Hal ini didasarkan pada prinsip kebijaksanaan (rukhsah) yang diberikan oleh Allah SWT kepada umatnya.
Aturan yang Mengizinkan Musafir Tidak Berpuasa
Ada dua aturan utama yang mengizinkan seseorang yang sedang dalam perjalanan jauh untuk tidak berpuasa:
Jarak Perjalanan Lebih dari 80 KM
Jika jarak tempuh perjalanan melebihi 80 km, maka seseorang dianggap sebagai musafir. Dalam kondisi ini, puasa tidak wajib dilakukan.Perjalanan Dilakukan Bukan untuk Maksiat
Perjalanan harus dilakukan untuk tujuan yang sah dan bermanfaat, bukan untuk melakukan perbuatan dosa. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 184:
“(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka, siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, itu lebih baik baginya dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
Ayat ini menjelaskan bahwa bagi yang sedang dalam perjalanan, mereka diberi kelonggaran untuk tidak berpuasa, asalkan niatnya tidak buruk.
Kewajiban Mengganti Puasa
Meskipun diperbolehkan tidak berpuasa saat musafir, para musafir tetap wajib mengganti puasa yang telah dilewatkan. Penggantian puasa dilakukan di luar bulan Ramadan, sesuai kemampuan dan waktu yang tersedia.
Ustadzah Ika juga menjelaskan bahwa puasa saat dalam perjalanan bisa disesuaikan dengan kondisi tubuh dan kemampuan seseorang. Jika seseorang merasa kuat dan mampu, maka tetap berpuasa menjadi pilihan yang lebih baik.
Keutamaan Berpuasa Saat Musafir
Meski tidak wajib, tetapi jika seseorang memilih untuk tetap berpuasa meski sedang dalam perjalanan, maka hal ini akan mendatangkan pahala yang besar. Sebab, puasa dalam kondisi sulit menunjukkan kesabaran dan kekuatan iman.
Dengan demikian, setiap Muslim harus memahami aturan-aturan yang ada dalam Islam terkait puasa Ramadan. Jika sedang dalam perjalanan jauh, kita diberi kelonggaran, namun tetap harus bertanggung jawab atas puasa yang dilewatkan.










