BisnisIndustriInvestasiNasional

Mengapa BASF & Eramet Hengkang dari Proyek Smelter Sonic Bay Senilai $2,6 Miliar di Maluku Utara?

Proyek Smelter Nikel

Perusahaan tambang asal Prancis, Eramet, dan perusahaan asal Jerman, Badische Anilin- und Soda-Fabrik (BASF), secara mengejutkan memutuskan untuk membatalkan proyek investasi bersama senilai USD 2,6 miliar pada kompleks pemurnian nikel-kobalt di Weda Bay, Maluku Utara.

Keputusan ini diumumkan pada Senin (24/6) dan langsung mengundang berbagai spekulasi di kalangan industri.

Dalam siaran pers yang dikutip dari Reuters1https://www.reuters.com/markets/commodities/eramet-basf-cancel-plan-invest-26-billion-refining-complex-indonesia-2024-06-24/ pada Selasa (25/6), Eramet menyatakan, “Setelah evaluasi menyeluruh, termasuk diskusi tentang strategi pelaksanaan proyek, kedua mitra memutuskan untuk tidak melanjutkan investasi ini.”

Namun, Eramet tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai alasan di balik keputusan tersebut.

Seorang pejabat senior di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Indonesia, Septian Hario Seto, memberikan sedikit pencerahan terkait keputusan ini.

Menurutnya, salah satu alasan utama adalah karena sudah banyak fasilitas high pressure acid leach (HPAL) di Indonesia.

“Saya pikir pembatalan ini karena mereka melihat bahwa sudah banyak HPAL di Indonesia, jadi lebih mudah mendapatkan MHP (mixed hydroxide precipitate), sehingga tidak perlu mengeluarkan capex besar untuk membangunnya sendiri,” kata Seto.

Pada Januari 2023, pemerintah Indonesia mengumumkan bahwa Eramet dan BASF hampir menyelesaikan investasi sebesar USD 2,6 miliar dalam produksi nikel untuk baterai kendaraan listrik.

Proyek Smelter Sonic Bay ini berbasis pada sumber daya dari tambang Eramet di Weda Bay. Proyek Smelter Sonic Bay, yang diusulkan oleh BASF dan Eramet, bertujuan untuk memproduksi MHP sebagai bahan baku prekursor baterai listrik dengan kapasitas produksi 67 ribu ton nikel per tahun dan 7,5 ribu ton kobalt per tahun.

Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia, juga mendukung penuh rencana investasi ini.

Dalam pertemuan dengan CEO BASF, Martin Brudermüller, di Davos, Swiss pada Selasa (17/1), Bahlil menyatakan dukungannya terhadap pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik di Indonesia.

“Kami di Kementerian Investasi/BKPM akan mengawal segala proses investasi BASF dari awal hingga akhir agar proyek ini bisa segera terlaksana,” ungkap Bahlil.

Proyek Smelter Sonic Bay Telah Pupus

Namun, semua harapan tersebut kini pupus setelah pengumuman resmi dari kedua perusahaan. Dengan hengkangnya Eramet dan BASF dari proyek Smelter Sonic Bay, masa depan pengembangan industri baterai kendaraan listrik di Indonesia akan menghadapi tantangan besar.

Pemerintah Indonesia harus mencari strategi baru untuk menarik kembali investasi asing guna mendukung visi menjadi pemain utama dalam industri kendaraan listrik dunia.

Hengkangnya investor asing seperti Eramet dan BASF dari proyek Smelter Sonic Bay ini menunjukkan betapa pentingnya evaluasi strategis dan kondisi pasar dalam keputusan investasi.

Langkah ini juga memberikan pelajaran berharga bagi Indonesia dalam mengelola dan menarik investasi asing, terutama di sektor yang sangat strategis seperti industri baterai kendaraan listrik.

Dengan semakin banyaknya HPAL yang sudah ada di Indonesia, diharapkan industri lokal dapat terus berkembang dan memenuhi kebutuhan bahan baku untuk produksi baterai kendaraan listrik.

Namun, tetap diperlukan kerjasama dan dukungan dari berbagai pihak untuk memastikan keberlanjutan dan keberhasilan hilirisasi nikel di Indonesia.(*)

Sumber Rujukan :

  • 1
    https://www.reuters.com/markets/commodities/eramet-basf-cancel-plan-invest-26-billion-refining-complex-indonesia-2024-06-24/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button