Olahraga

Polemik Gol Dewa vs Persib Tegaskan Kebutuhan Kamera Garis Gawang, Komite Wasit PSSI: Lebih Baik

Teknologi Kamera Garis Gawang Masih Tertunda di Super League 2025/2026

Kamera garis gawang belum diterapkan dalam penyelenggaraan Super League musim 2025/2026. Meskipun teknologi ini dinilai mampu meningkatkan kualitas kompetisi, kehadirannya masih menjadi isu yang belum terpecahkan. Polemik gol yang terjadi dalam pertandingan antara Dewa United dan Persib Bandung memicu kembali perdebatan mengenai urgensi penggunaan teknologi tersebut.

Insiden yang terjadi pada laga pekan ke-28 antara kedua tim berlangsung di Stadion Internasional Banten, Serang, Banten, pada Senin, 21 April 2026. Gol yang dicetak oleh Alex Martins untuk Dewa United menjadi sorotan setelah umpan dari Alexis Messidoro terlihat melewati garis lapangan. Namun, keputusan wasit menilai bahwa bola masih dalam permainan, sehingga gol tetap dianggap sah.

Ketua Komite Wasit PSSI, Yoshimi Ogawa, menjelaskan bahwa kepastian apakah bola sudah keluar atau belum hanya bisa dipastikan dengan bantuan kamera garis gawang. Ia menegaskan bahwa penggunaan VAR tidak cukup untuk menjawab situasi seperti ini karena keterbatasan sudut pandang kamera. Dalam kondisi demikian, keputusan akhir tetap bergantung pada hakim garis yang melihat langsung posisi bola di lapangan.

Ogawa menyatakan bahwa kehadiran kamera garis gawang dapat mendorong perkembangan kualitas sepak bola nasional. “Sebenarnya kamera garis gawang tidak wajib saat menggunakan VAR. Namun jika ada, tentu akan lebih baik,” ujarnya. Meski demikian, ia menekankan bahwa pihaknya tidak memiliki kewenangan untuk memaksakan penerapan teknologi tersebut kepada operator kompetisi, I.League. Namun, rekomendasi tetap diberikan demi meningkatkan penerimaan publik terhadap keputusan wasit.

“Kami tidak bisa memaksakan kepada liga profesional. Tapi ke depan, jika ada tambahan kamera di garis gawang, itu akan membuat keputusan lebih adil bagi semua pihak. Posisi saya adalah kita harus memahami kondisi saat ini dan mengelolanya dengan baik,” kata Ogawa.

Lebih jauh, ia melihat penggunaan kamera garis gawang dapat menjadi sarana pembelajaran bagi perangkat pertandingan di masa mendatang. Dengan dukungan teknologi, tugas wasit maupun asisten akan lebih terbantu dalam membaca situasi secara akurat. Di sisi lain, peran suporter juga dinilai penting dalam menjaga iklim kompetisi tetap kondusif. Penerimaan terhadap keputusan wasit menjadi bagian dari dinamika pertandingan yang tidak terpisahkan.

“Tentu. Wasit dan asisten harus berusaha mengambil posisi terbaik untuk melihat situasi. Jika 100 persen yakin bola keluar, harus memberi sinyal. Jika tidak yakin, keputusan awal harus dipertahankan. Lalu VAR melakukan pengecekan. Jika VAR tidak menemukan bukti yang jelas, maka keputusan awal tetap berlaku,” tutur Ogawa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button