
Dedi Mulyadi
Industri, Bericuan.id – Di era digital yang serba cepat ini, sosok pejabat publik tidak hanya dinilai dari kinerjanya di lapangan, tetapi juga dari bagaimana mereka mampu memanfaatkan media sosial untuk berkomunikasi dan membangun citra. Salah satu figur yang tengah menjadi sorotan adalah Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang baru-baru ini dijuluki sebagai “Gubernur Konten.” Julukan ini muncul dari gaya komunikasi dan aktivitasnya yang sangat aktif di dunia maya, terutama Instagram.
Pada tanggal 29 April 2025, sebuah postingan di Instagram yang menampilkan Dedi Mulyadi dengan julukan “Gubernur Konten” menjadi viral. Julukan ini awalnya muncul sebagai sindiran dari Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, yang menyebut Dedi Mulyadi lebih fokus pada pembuatan konten ketimbang kerja nyata. Namun, Dedi Mulyadi justru menanggapi sindiran tersebut dengan santai dan bahkan menjadikannya sebagai peluang untuk terus berinovasi dalam komunikasi publik.
Dalam sebuah video yang diunggah di Instagram, Dedi Mulyadi mengatakan, “Viral terus, belanja iklan juga terus. Ini cara saya menjangkau masyarakat lebih luas.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa ia memahami betul kekuatan media sosial sebagai alat untuk menyampaikan pesan dan program pemerintah secara efektif.
Gubernur Konten: Lebih dari Sekadar Julukan
Istilah “Gubernur Konten” bukan hanya sekadar lelucon atau sindiran. Dedi Mulyadi membuktikan bahwa dengan memanfaatkan konten digital yang kreatif dan relevan, seorang pejabat publik bisa lebih dekat dengan masyarakat, terutama generasi muda yang sangat aktif di dunia maya. Konten yang dibuatnya tidak hanya informatif, tetapi juga menghibur dan mudah diterima oleh berbagai kalangan.
Beberapa konten yang diunggah Dedi Mulyadi di Instagram menampilkan kegiatan sehari-hari, program pembangunan, hingga interaksi dengan warga. Hal ini membuatnya mendapatkan banyak pengikut dan dukungan di media sosial, sekaligus meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pemerintah daerah.
Dedi Mulyadi juga mengungkapkan bahwa strategi digital yang ia gunakan bukan tanpa perhitungan. Ia memanfaatkan data dan analitik untuk menentukan jenis konten yang paling diminati masyarakat. Dengan pendekatan ini, pesan-pesan penting dari pemerintah bisa tersampaikan dengan lebih efektif dan tepat sasaran.
Selain itu, Dedi Mulyadi juga aktif berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk influencer dan komunitas digital, untuk memperluas jangkauan kontennya. Ini menjadi contoh bagaimana pejabat publik bisa beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan tren komunikasi modern.
Dampak Positif bagi Pemerintahan dan Masyarakat
Fenomena “Gubernur Konten” ini membawa dampak positif yang nyata. Masyarakat merasa lebih dekat dan mudah mengakses informasi terkait kebijakan dan program pemerintah. Transparansi meningkat, dan partisipasi publik dalam pembangunan daerah pun menjadi lebih aktif.
Dedi Mulyadi juga menjadi inspirasi bagi pejabat lain untuk tidak takut tampil di media sosial dan memanfaatkan platform digital sebagai sarana komunikasi yang efektif. Ini sejalan dengan tren global di mana digitalisasi menjadi kunci keberhasilan dalam berbagai sektor, termasuk pemerintahan.
Julukan “Gubernur Konten” yang disematkan kepada Dedi Mulyadi bukan hanya sekadar gelar lucu di dunia maya, melainkan sebuah fenomena baru dalam cara pejabat publik berinteraksi dengan masyarakat. Dengan strategi konten yang tepat, Dedi Mulyadi berhasil mengubah kritik menjadi peluang, dan viralitas menjadi alat untuk memperkuat komunikasi dan pelayanan publik.
Di tengah persaingan informasi yang ketat, kemampuan seorang gubernur untuk menjadi “gubernur konten” bisa menjadi nilai tambah yang signifikan dalam membangun citra dan efektivitas pemerintahan.
Sumber. IG Yuswohadi – Pakar Marketing. (*)







