Babi Hitam Tertangkap di Pakel, Isu Babi Ngepet Mencuat

Heboh Penangkapan Babi Ngepet di Desa Pakel
Netizen Tulungagung kini sedang ramai membicarakan penangkapan babi ngepet yang terjadi di Desa Pakel, Kecamatan Ngantru, Kabupaten Tulungagung. Kejadian ini berlangsung pada Jumat (16/1/2026) pagi dan langsung menjadi sorotan warga setempat.
Babi ngepet adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan makhluk halus atau pesugihan yang dikenal luas dalam masyarakat Jawa. Isu tentang keberadaannya sering kali membuat heboh dan menimbulkan rasa penasaran. Namun, dalam kasus ini, ternyata ada fakta yang berbeda.
Seorang warga setempat bernama Hariyanto (43 tahun) berhasil menangkap babi kecil berwarna hitam tersebut. Setelah dipastikan bahwa itu memang babi biasa, ia menjualnya dengan harga Rp 400.000 kepada seorang temannya dari Blitar.
“Sudah dibeli teman saya dari Blitar Rp 400.000. Sekarang sudah dibawa,” ujar Hariyanto.
Ia mengaku tidak percaya dengan isu babi ngepet yang beredar di kalangan warga. Menurutnya, babi itu awalnya terlihat di kawasan gapura, perbatasan Desa Pakel dengan wilayah Kabupaten Blitar pada Jumat pagi.
Pada sekitar pukul 05.00 WIB, babi betina kecil itu berhasil ditangkap oleh warga, tetapi kemudian melepaskan diri dari jeratnya dan kabur. Hariyanto kemudian mengejarnya menggunakan kurungan ayam jago di kawasan belakang rumahnya. Akhirnya, ia berhasil menyergap babi tersebut dan membawanya pulang.
Setelah penangkapan itu, banyak warga yang datang untuk melihat babi tersebut. Foto dan video penangkapan babi ini pun menyebar dan disertai isu penangkapan babi ngepet.
Hariyanto mengungkapkan bahwa ada beberapa orang yang menyarankan agar kepala babi dicat dengan warna putih atau mengiris kupingnya agar bisa membuat kapok orang yang ngepet. Namun, ia tidak melakukan hal-hal tersebut karena yakin bahwa babi itu benar-benar babi biasa.
“Saya yakin ini benar-benar babi, bukan babi jadi-jadian. Teman saya juga ikut meyakinkan, ini memang babi biasa, bukan babi hutan,” katanya.
Wilayah Desa Pakel, Kecamatan Ngantru tidak memiliki peternakan babi, namun di seberang Sungai Brantas yang masuk Kecamatan Ngunut, banyak peternakan babi. Hariyanto tidak tahu pasti dari mana asal babi ini, tetapi ada warga yang melihat 4 hari sebelumnya, babi ini ada di tepi Sungai Brantas.
Babi ini juga pernah terlihat di permukiman warga, kemudian diusir. Ia diberi makan ketela dan ampas tahu, yang dimakan dengan lahap. Beratnya mungkin sekitar 10 kg.
Hariyanto tidak tahu pasti apakah babi itu akan dipelihara atau dikonsumsi. Uang hasil penjualan babi ini telah digunakan untuk membeli rokok dan dibagikan ke teman-temannya yang melihatnya menangkap babi itu.
Cerita Rakyat Babi Ngepet
Pesugihan babi ngepet merupakan salah satu cerita rakyat yang berkembang di Pulau Jawa. Dalam kisah yang berkembang, ritual ini dilakukan oleh dua orang laki-laki dan perempuan. Si laki-laki akan berubah menjadi babi, sementara si perempuan bertugas menjaga lilin atau lentera agar tetap menyala.
Babi jadi-jadian ini akan keliling ke perkampungan untuk mencuri uang milik warga. Dia akan menggesek-gesekkan pantatnya pada rumah sasaran, dan uang milik pemilik rumah akan hilang dan beralih ke si babi.
Api pada lilin simbol dari ikatan perjanjian pelaku dengan dunia gaib. Saat api masih menyala, ritual babi ngepet ini masih terus berlangsung dan pelaku masih aman. Namun jika api padam, maka ikatan perjanjian pelaku dan dunia gaib dianggap putus.
Pelaku babi ngepet akan tetap jadi babi dan tidak bisa menjadi manusia kembali. Selain terjebak dalam bentuk babi, pelaku juga bisa mati jika diserang makhluk lain. Sementara penjaga api akan menanggung kutukan.










