Bos Danantara Hadir di Konferensi Pers BHR Ojek Online, Ada Kaitan dengan Penggabungan Grab dan Gojek?

Pemerintah Jelaskan Peran Danantara dalam Program BHR
Pemerintah telah menegaskan bahwa keterlibatan Danantara dalam program Bonus Hari Raya (BHR) untuk para pengemudi ojek daring murni sebagai bentuk dukungan agar bantuan tersebut bisa lebih luas menjangkau mitra-mitra pengemudi. Tidak ada hubungan langsung antara peran ini dengan isu konsolidasi bisnis antara perusahaan aplikator.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara, Rosan Roeslani, menyatakan bahwa dukungan diberikan agar BHR tahun ini meningkat, baik dari sisi nominal maupun jumlah penerima. Ia menjelaskan bahwa tujuan utama adalah agar para pengemudi ojol dapat merasakan manfaat yang lebih besar dari program ini.
“Kami memberikan dukungan penuh supaya BHR ini bisa didapatkan para pengemudi ojol dan angkanya meningkat,” ujarnya usai Taklimat Media di Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Rosan menegaskan bahwa peran Danantara dalam program ini tidak terkait dengan isu merger antara Grab dan GoTo yang sempat menjadi perbincangan publik. Ia hanya menyampaikan imbauan agar kedua perusahaan tersebut tetap memprioritaskan kepentingan pengemudi ojol.
“Tidak. Kami hanya mengimbau saja,” katanya singkat.
Secara nasional, pemerintah menyebut bahwa BHR 2026 akan menjangkau sekitar 850 ribu mitra pengemudi dengan nilai total sekitar Rp 220 miliar. Dua aplikator besar masing-masing mengalokasikan Rp 100–110 miliar, meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun lalu.
Dukungan pemerintah, termasuk melalui Danantara, diarahkan untuk menjaga keseimbangan ekosistem ekonomi digital. Selain memberi tambahan penghasilan bagi mitra menjelang Lebaran, kebijakan ini diharapkan memperkuat stabilitas sektor transportasi daring saat periode mudik dan lonjakan permintaan.

Penjelasan Lebih Lanjut Mengenai Keterlibatan Danantara
Sebelumnya, Rosan menyampaikan bahwa Danantara memberikan keleluasaan penuh kepada PT GoTo Gojek Tokopedia (GOTO) dan Grab dalam rencana kerja sama atau merger. Ia menekankan bahwa penggabungan dua perusahaan jasa transportasi online tersebut harus mengedepankan peningkatan kesejahteraan pengemudi ojek online (ojol).
“Kita serahkan kepada prosesnya Grab dan GoTo, mereka sedang berjalan. Menyampaikan juga kepada kita untuk terbuka juga untuk Danantara kalau ingin berpartisipasi mereka terbuka. Kita bilang ya kita lihat dulu prosesnya mereka seperti apa, pricing-nya seperti apa,” kata Rosan di Jakarta, dikutip Ahad (30/11/2025).
Rosan memastikan pihaknya terus memantau proses yang sedang berlangsung dari rencana merger kedua perusahaan terbuka tersebut. Ia kembali menegaskan perlunya mengutamakan kepentingan para pengemudi ojol.
“Yang penting buat Danantara adalah kita juga ingin menjaga agar kesejahteraan para ojol ini juga baik. Karena kalau Danantara masuk, ya kita ingin memastikan kesejahteraan ojol. Justru itu yang paling utama buat kami,” ungkapnya.
Ia mengatakan Danantara akan menunggu hingga proses kerja sama antara Grab dan GoTo semakin jelas, untuk kemudian menentukan posisi perusahaan dalam kesepakatan tersebut.
“Tapi sekarang kami persilakan dulu untuk Grab dan GoTo ini berjalan proses kerja samanya, atau bentuk apa pun mereka, penggabungan atau apa, kita serahkan dulu ke mereka,” tegas Rosan.
Rencana Penggabungan GoTo dan Grab
Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebut adanya rencana penggabungan GoTo dan Grab. “Rencana begitu,” kata Prasetyo.
Prasetyo mengatakan bahwa pembahasan penggabungan tersebut merupakan bagian dari diskusi yang lebih luas mengenai rancangan peraturan presiden (perpres) terkait ojek daring. Ia mengatakan, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) akan terlibat dalam proses penggabungan dua perusahaan tersebut.
“Kira-kira begitu (Danantara terlibat),” ujar Prasetyo.
Dia menyampaikan rencana penggabungan kedua perusahaan itu masih dalam tahap pencarian bentuk, yang bisa berupa merger ataupun akuisisi. “Ya ini lagi dicari skemanya,” ujarnya lagi.










