Andi Harun Pastikan Pembangunan Terminal Bahan Bakar Palaran untuk Atasi Kelangkaan BBM di Samarinda

Perkuat Ketahanan Energi, Samarinda Siap Bangun Terminal BBM
Pembangunan Terminal Terpadu Palaran di Kota Samarinda kini memasuki tahap baru yang menandai langkah penting dalam upaya memperkuat ketahanan energi daerah. Dalam pertemuan antara PT Pertamina Patra Niaga dan Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda, Walikota Andi Harun menyatakan bahwa rencana pembangunan fuel terminal di wilayah Palaran akhirnya mendapat kepastian setelah melalui proses panjang.
Andi Harun mengungkapkan bahwa ide pembangunan terminal bahan bakar ini bukanlah hal baru. Ia mengingatkan kembali situasi pada tahun 2021–2022 ketika isu kelangkaan BBM sering muncul di tengah masyarakat. Saat itu, kebutuhan akan fasilitas penyimpanan dan distribusi BBM yang lebih mandiri di Samarinda menjadi semakin mendesak.
“Terutama di kota Samarinda dan sekitarnya, maka diperlukan pengolahan atau diperlukan terminal khusus yang berada di wilayah Samarinda. Tidak lagi mengandalkan satu-satunya model pengiriman dari Balikpapan atau dari daerah lain,” jelasnya.
Keberadaan fuel terminal di Samarinda diharapkan menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan distribusi dari Balikpapan maupun daerah lain, sekaligus memperkuat pasokan BBM di masa mendatang. Menurut Andi Harun, proses menuju kepastian pembangunan ini memakan waktu cukup panjang. Sejak izin lokasi diterbitkan pada 2021, Pemkot terus meminta konfirmasi kepada pihak Patra Niaga terkait kelanjutan proyek tersebut.
“Alhamdulillah setelah sekian lama hingga sekarang 2026, lumayan sangat panjang. Tapi kita bersyukur karena akhirnya dipastikan bahwa di Samarinda akan dibangun fuel terminal untuk BBM kita di Samarinda dan sekitarnya,” ungkapnya.
Secara konstruksi, proyek ini diperkirakan akan mulai memasuki tahap persiapan pembangunan oleh pihak Patra Niaga. Target penyelesaian konstruksi diproyeksikan dalam waktu sekitar dua tahun, yakni pada awal 2028.
Untuk memastikan proyek berjalan sesuai regulasi, Wali Kota telah mengumpulkan perangkat daerah terkait, termasuk Dinas PUPR, guna mengawal aspek site plan dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG). “Urusan di pemerintah kota itu lebih pada perizinan di PBG-nya dan side plan-nya. Selebihnya tinggal sosialisasi ke masyarakat,” paparnya.
Dari sisi tata ruang, Andi Harun menilai lokasi pembangunan fuel terminal tidak menimbulkan konflik sosial lantaran Palaran berada di kawasan industri, bukan permukiman padat penduduk. Orang nomor satu di Samarinda ini menyampaikan harapan agar masyarakat, khususnya warga Kecamatan Palaran dapat memberikan dukungan terhadap investasi strategis tersebut.
“Ya kita berharap dan berdoa ini banyak memberi manfaat kepada masyarakat di masa yang datang,” pungkasnya.
Langkah Strategis untuk Masa Depan Energi
Pembangunan Terminal Terpadu Palaran merupakan salah satu langkah strategis dalam memenuhi kebutuhan BBM masyarakat. Proyek ini diharapkan bisa menjawab tantangan distribusi yang selama ini bergantung pada wilayah lain. Selain itu, keberadaan terminal ini juga diharapkan bisa meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan energi di wilayah Samarinda dan sekitarnya.
Dalam prosesnya, Pemkot Samarinda telah melakukan berbagai langkah koordinasi dengan pihak terkait, termasuk dalam hal perizinan dan perencanaan. Hal ini bertujuan agar proyek dapat berjalan secara lancar dan sesuai dengan standar yang ditetapkan.
Selain itu, sosialisasi kepada masyarakat juga menjadi bagian penting dalam pelaksanaan proyek ini. Dengan adanya kesadaran dan pemahaman dari masyarakat, diharapkan proyek dapat diterima dengan baik dan berjalan tanpa hambatan.
Kehadiran fuel terminal di Palaran juga diharapkan bisa menjadi sarana untuk menciptakan lapangan kerja baru serta meningkatkan ekonomi lokal. Dengan demikian, proyek ini tidak hanya bermanfaat dalam hal kebutuhan energi, tetapi juga berkontribusi positif terhadap kemajuan daerah.
Tantangan dan Harapan Masa Depan
Meskipun proyek ini telah mendapatkan kepastian, masih ada beberapa tantangan yang harus dihadapi dalam proses pelaksanaannya. Salah satunya adalah masalah koordinasi antara pihak swasta dan pemerintah daerah. Diperlukan komitmen kuat dari kedua belah pihak agar proyek bisa berjalan sesuai rencana.
Selain itu, perlu adanya pengawasan yang ketat terhadap pelaksanaan proyek agar tidak terjadi penyimpangan atau kebocoran anggaran. Dengan pengawasan yang baik, proyek ini diharapkan bisa selesai tepat waktu dan memberikan hasil yang optimal.
Harapan besar juga ditanamkan bahwa proyek ini akan menjadi fondasi kuat bagi ketahanan energi di Kota Samarinda. Dengan adanya terminal BBM yang mandiri, ketersediaan energi di daerah ini akan lebih stabil dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan.










