Perjuangan Azis Dibalas Hadiah Motor, Kisah Guru Honorer Jakarta dengan Gaji Kecil

Kehidupan Seorang Guru Honorer yang Berjuang dengan Sepeda
Abdul Azis, seorang guru honorer di Jakarta Utara, menjadi sorotan publik karena kisah perjuangannya mengayuh sepeda ke sekolah setiap hari. Ia menempuh jarak sekitar 10 kilometer pulang-pergi sambil membonceng anaknya setelah motornya hilang. Meskipun memiliki gaji sekitar Rp2 juta per bulan dan berbagai keterbatasan, Azis tetap bertahan karena cinta terhadap profesi sebagai guru.
Azis mulai mengajar di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Islam 1, Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara sejak tahun 2018. Ia merasakan betul dinamika kehidupan sebagai tenaga pendidik dengan penghasilan terbatas. Namun di balik keterbatasan itu, ia menemukan kebahagiaan sederhana yang membuatnya tetap bertahan.
“Kalau sukanya, kita senang bisa berkumpul sama anak-anak. Ada canda dan tawa dengan murid-murid, itu yang bikin semangat,” ujar Azis saat berbincang di musala dekat tempat tinggalnya di kawasan Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat, pada malam hari.
Interaksi dengan sesama guru juga menjadi warna tersendiri dalam kesehariannya. Azis mengaku banyak belajar dari berbagi pengalaman hidup dengan rekan-rekannya di sekolah. Namun, di balik kebahagiaan itu, terselip realita yang tak mudah dijalani.
“Kadang ada dukanya juga. Kegiatan padat, tapi untuk kebutuhan seperti transport atau honor itu sedikit dan tidak mencukupi,” katanya.
Meski demikian, Azis memilih tetap bertahan. Baginya, profesi guru tetap memiliki nilai keberkahan yang tak ternilai. “Tapi walau bagaimanapun, kita tetap semangat. Mudah-mudahan walaupun sedikit, ini jadi keberkahan buat kita semua,” tuturnya.
Sebelum menjadi guru di sekolah formal, Azis lebih dulu mengajar di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA). Ia menekuni aktivitas tersebut selama enam tahun, sejak masih lajang hingga setelah menikah. “Dulu saya ngajar di TPA, tempat teman. Kurang lebih 5 sampai 6 tahun, dari zaman bujangan sampai setelah menikah. Lalu saya berhenti karena ada tawaran mengajar di sekolah,” jelasnya.
Kesempatan itu kemudian membawanya menjadi guru honorer hingga sekarang. Namun, perjalanan tersebut tidak serta-merta membuat kondisi ekonominya membaik. Gaji yang diterimanya saat ini sekitar Rp2 juta per bulan, angka yang menurutnya masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
“Gaji saya sekarang sekitar Rp2 juta. Tapi untuk kebutuhan sehari-hari sangat kurang, karena saya menghidupi istri dan dua anak,” ungkapnya. Kebutuhan anak-anak menjadi perhatian utama. Mulai dari susu, pampers untuk anak yang masih kecil, hingga biaya sekolah dan kebutuhan harian lainnya.
“Kebutuhan anak saya yang kecil itu susunya, pampersnya, lalu juga biaya sekolah, jajan. Ditambah kebutuhan makan sehari-hari, itu sangat-sangat tidak mencukupi,” katanya.
Di tengah kondisi tersebut, Azis tetap berusaha menjalani hidup dengan penuh kesabaran dan rasa syukur. Baginya, menjadi guru bukan hanya soal penghasilan, tetapi juga tentang pengabdian dan harapan akan keberkahan hidup.
“Untungnya saya ada kegiatan lain di luar, kayak ngajar marawis, kemudian juga isi pengajian dan jadi khatib Salat Jumat, meskipun tidak banyak tapi alhamdulilah ada tambahan,” ujarnya.
Viral karena Kayuh Sepeda ke Sekolah
Nama Abdul Azis viral di media sekolah terkait perjuangannya mengayuh sepeda kurang lebih pulang pergi 10 kilometer tiap hari dari rumahnya di Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat menuju tempatnya mengajar di MI Nurul Islam 1, Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara. Azis tak sendiri, ia tiap hari membonceng putri sulungnya yang juga sekolah di tempat ia mengajar.
Azis bercerita, dirinya terpaksa menggunakan sepeda lipat milik ponakannya sejak Desember 2025 setelah sepeda motor miliknya hilang. Alhasil, perjalanan yang sebelumnya hanya memakan waktu 10 menit kini berubah menjadi hingga 30 menit. Jalur yang ia lalui merupakan jalan besar yang dipadati kendaraan berat, termasuk truk kontainer. Risiko kecelakaan menjadi ancaman nyata setiap harinya.
Selain itu, ia juga harus melewati tanjakan yang cukup tinggi hingga membuatnya harus turun menuntun sepedanya. “Kadang takut, khawatir kesenggol kendaraan besar. Tapi tetap dijalani,” tuturnya.
Dapat Hadiah Motor
Usai kisahnya viral, Azis mendapat bantuan berupa sepeda motor dari ‘orang baik’ alias relawan yang berdonasi untuk membantunya pada Rabu (22/4/2026). Dengan disaksikan para murid-muridnya, Azis pun terharu ketika disuruh mencoba sepeda motor matik keluaran terbaru yang kini menjadi miliknya.
“Alhamdulillah luar biasa, senangnya. Anak saya juga ikut merasakan kebahagiaan ini,” ujarnya. Kini, motor tersebut sudah digunakan Azis untuk menunjang aktivitas mengajar sehari-hari. Ia pun menyampaikan terima kasih kepada para donatur yang telah membantu.
“Semoga menjadi pahala untuk orang-orang baik yang telah membantu saya dan keluarga. Terima kasih sebesar-besarnya,” tutupnya.









