
Mark Wolynn
Potongan bait lagu “Mangu” memang viral belakangan ini, namun ada pelajaran penting lain yang lebih mendalam: proses berdamai dengan diri sendiri, keluarga, bahkan leluhur, dapat ditemukan dalam buku It Didn’t Start With You karya Mark Wolynn (terjemahan Indonesia: Bukan Kamu Penyebabnya).
Siklus Keluarga dalam Perspektif Wolynn
Wolynn menjelaskan bahwa trauma generasi berputar melintasi beberapa generasi, menciptakan pola berulang yang tak disadari:
- Bahasa berulang – Frasa atau keyakinan yang terdengar “bukan milik kita” namun terulang karena warisan tak sadar dari leluhur.
- Usia berulang – Pada rentang usia tertentu muncul masalah fisik atau psikis yang pernah terjadi pada nenek moyang.
- Peristiwa/emosi berulang – Penolakan, kegagalan, atau rasa ditinggalkan muncul kembali sebagai “alarm” yang menandakan trauma lama belum terselesaikan.
Asal‑Usul Energi Trauma
Menurut Wolynn, energi emosional bersifat konstan. Apa yang tidak diungkapkan akan tetap tersimpan, kemudian “diturunkan” secara tak kasat mata ke keturunan berikutnya.
Contoh Kasus: Ben, Pengacara yang Terjebak dalam Siklus
- Latar belakang: Ben, pemilik firma hukum, selalu merasa gagal dan berjuang “hanya untuk bertahan”.
- Akar trauma: Kakeknya di Florida dulu memiliki kebun kaya yang dikelola oleh pekerja migran berupah rendah. Saat kecil, Ben bermain dengan anak‑anak migran tersebut, menyimpan rasa bersalah yang bukan miliknya.
- Rekonsiliasi batin: Ben membayangkan meminta izin kepada kakeknya, melepaskan beban yang tidak seharusnya ia pikul, bahkan berusaha menghubungi keluarga migran itu.
- Hasil: Setelah ia menangani kasus pekerja yang dirugikan secara gratis, firma hukum Ben tumbuh lebih sehat dan berkembang.
Buku ini mengungkap bahwa perilaku destruktif pada puncak karier—seperti atlet yang menyalahgunakan narkoba atau selebritas yang mengutil hotel—sering kali bukan kebetulan. Mereka secara tidak sadar mengulangi pola trauma kemiskinan, ketidakpahaman, atau kegagalan yang terjadi pada generasi sebelumnya.
Cara Memutus Siklus Trauma Generasi
- Identifikasi pola berulang dalam bahasa, usia, dan peristiwa.
- Lakukan “rekonsiliasi batin”: visualisasikan meminta izin atau mengakui trauma kepada leluhur.
- Tindakan nyata: bantu atau beri dukungan pada pihak yang sebelumnya menjadi sumber trauma (misalnya, menghubungi keluarga migran).
- Terus pantau perubahan perilaku dan kebiasaan selama beberapa generasi ke depan.
It didn’t start with you, but it must be stopped with you. Bukan kamu penyebabnya, tapi kamu bisa menghentikannya.
Penulis. Lutfiel Hakim – Pengusaha. (*)










