CEO Volvo: Industri Otomotif Tak Bisa Kembali, Elektrifikasi adalah Harus

Pandangan Tegas CEO Volvo tentang Masa Depan Industri Otomotif
Hakan Samuelsson, CEO dari perusahaan otomotif Volvo, menyampaikan pandangan yang tegas mengenai arah industri otomotif di masa depan. Dalam wawancara dengan Bloomberg, ia menegaskan bahwa elektrifikasi adalah jalan yang tidak bisa dibantah lagi. Menurutnya, dalam waktu sekitar sepuluh tahun ke depan, seluruh mobil akan beralih ke listrik dan biayanya akan menjadi lebih murah.
Meskipun yakin akan masa depan yang ditawarkan oleh kendaraan listrik, Volvo saat ini masih menghadapi tantangan. Dalam delapan bulan pertama tahun ini, penjualan mobil listrik murni milik perusahaan turun sebesar 24% menjadi 90.326 unit. Penjualan mobil hibrida plug-in juga mengalami penurunan sebesar 1%, sedangkan penjualan mobil berbahan bakar bensin dan mild hybrid mengalami penurunan yang lebih besar, yaitu 7%. Secara keseluruhan, penjualan Volvo turun sebesar 10% menjadi 498.464 unit.
Namun, Samuelsson tetap optimis bahwa Volvo dapat membalikkan situasi tersebut. Ia menekankan pentingnya peluncuran generasi baru mobil hibrida plug-in, yang ia sebut sebagai “mobil listrik dengan mesin cadangan.” Teknologi ini dirasa menjadi langkah strategis untuk menjembatani transisi menuju elektrifikasi.
Menariknya, induk perusahaan Volvo, Geely, telah memiliki teknologi extended-range melalui kolaborasi dengan Renault. Hal ini memberi Volvo akses ke teknologi yang sangat relevan dalam menghadapi tantangan pasar saat ini.
Samuelsson juga memperingatkan bahwa transisi penuh ke elektrifikasi akan membawa perubahan besar di industri otomotif. Ia memperkirakan bahwa pada tahun 2035, akan ada dua atau tiga merek asal Tiongkok yang kuat dan mendominasi pasar global. Sementara itu, perusahaan-perusahaan mobil tradisional harus siap menghadapi lanskap pasar yang benar-benar baru.
Namun, tidak semua produsen mobil setuju dengan pendekatan yang diambil oleh Volvo. BMW secara terbuka menyatakan bahwa mereka tidak akan meninggalkan mesin bensin hingga tahun 2035. Mercedes-Benz bahkan memperingatkan bahwa jika Uni Eropa melarang mobil bensin, industri otomotif Eropa bisa mengalami keruntuhan. Audi dan Porsche juga menilai bahwa transisi penuh ke kendaraan listrik dalam satu dekade terlalu prematur.
Di sisi lain, Polestar, merek saudara Volvo, mengkritik para pesaingnya karena dinilai tidak konsisten dalam komitmen terhadap elektrifikasi. Baik Volvo maupun Polestar terus mendesak Uni Eropa untuk tetap mempertahankan target nol emisi pada tahun 2035. Namun, banyak pesaing mereka justru menuntut pengenduran aturan terkait transisi energi.
Dengan demikian, tampaknya industri otomotif sedang menghadapi fase peralihan yang kompleks. Perusahaan-perusahaan besar mulai memilih jalur yang berbeda dalam menghadapi tantangan elektrifikasi, sementara beberapa pihak tetap bersikeras pada keberlanjutan model bisnis yang sudah ada. Tantangan ini tentu akan membentuk wajah industri otomotif di masa depan.










