
Purwakarta, Bericuan.id – Baru-baru ini, berita penutupan pabrik sepatu Bata di Purwakarta, Jawa Barat, menggemparkan industri alas kaki Indonesia. PT Sepatu Bata Tbk (BATA) mendirikan pabrik di Purwakarta sejak 1994 dan secara resmi terpaksa gulung tikar per 30 April 2024 meninggalkan lebih dari 200 karyawan yang terkena PHK.
Membaca dari berita-berita yang ada di internet dan belum klarifikasi langsung ke pihak sepatu Bata, saya mencoba meringkas lebih dalam alasan di balik penutupan pabrik sepatu Bata di Purwakarta ini.
Faktor-faktor yang Menyebabkan Penutupan Pabrik Sepatu Bata :
Berdasarkan informasi yang dihimpun, terdapat beberapa faktor utama yang berkontribusi terhadap penutupan pabrik sepatu Bata:
1. Kerugian yang Berkepanjangan:
Laporan keuangan Bata menunjukkan bahwa perusahaan telah mengalami kerugian selama beberapa tahun terakhir. Hal ini diperparah dengan pandemi COVID-19 yang menyebabkan penurunan permintaan global dan disrupsi rantai pasokan.
2. Biaya Operasional yang Tinggi:
Biaya operasional pabrik Bata di Purwakarta dikabarkan cukup tinggi, terutama terkait dengan biaya tenaga kerja dan logistik. Hal ini membuat produksi menjadi tidak kompetitif dibandingkan dengan pabrik lain di negara-negara dengan biaya produksi yang lebih rendah.
3. Perubahan Perilaku Konsumen:
Perubahan selera konsumen towards sepatu murah dan trendi menjadi tantangan bagi Bata. Konsumen kini lebih memilih membeli sepatu dari brand-brand lokal atau online yang menawarkan harga lebih terjangkau dan model yang lebih kekinian.
4. Kurangnya Inovasi:
Bata dianggap lamban dalam berinovasi dan mengikuti tren pasar. Desain sepatu Bata yang klasik dan terkesan ketinggalan zaman tidak lagi menarik bagi konsumen muda yang menginginkan sepatu yang lebih stylish dan fungsional.
5. Dominasi Pemain Baru:
Kemunculan pemain baru di industri alas kaki, seperti brand-brand online dan perusahaan lokal yang gesit dalam berinovasi, semakin mempersempit ruang gerak Bata di pasar.
Dampak Penutupan dan Masa Depan Bata:
Penutupan pabrik Bata di Purwakarta tentu saja memberikan dampak negatif bagi perekonomian lokal, terutama bagi para pekerja yang kehilangan mata pencaharian.
Namun, di sisi lain, penutupan ini juga bisa menjadi peluang bagi Bata untuk berbenah diri dan melakukan transformasi agar dapat kembali bersaing di pasar.
Beberapa langkah yang bisa diambil Bata di antaranya:
- Melakukan inovasi produk dan desain: Bata perlu memperbarui desain sepatunya agar lebih menarik bagi konsumen muda dan mengikuti tren pasar.
- Meningkatkan efisiensi operasional: Bata perlu mencari cara untuk menurunkan biaya operasional, seperti dengan melakukan otomasi dan relokasi pabrik ke negara dengan biaya produksi yang lebih rendah.
- Membangun brand image yang lebih kuat: Bata perlu membangun kembali brand image-nya agar lebih relevan dengan konsumen modern.
- Memanfaatkan platform digital: Bata perlu memanfaatkan platform digital seperti e-commerce dan media sosial untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.
Kesimpulan:
Penutupan pabrik sepatu Bata di Purwakarta merupakan sebuah tragedi bagi industri alas kaki Indonesia. Namun, dengan langkah yang tepat dan strategi yang jitu, Bata masih memiliki peluang untuk bangkit dan kembali menjadi raksasa sepatu seperti sedia kala.
Sebagai penutup, yang harus digaris bawahi kepada para pelaku industri, terutama industri manufaktur, bahwa kunci untuk bertahan di era disrupsi ini adalah dengan terus berinovasi, beradaptasi, dan mengikuti perkembangan zaman.(*)







