Jika Dua Orang Sering Lakukan 3 Hal Ini, Mereka Terjebak dalam Hubungan Tidak Sehat

Tanda-Tanda Hubungan yang Disfungsional
Cinta sering kali membuat seseorang tidak sadar akan hal-hal yang sebenarnya jelas terlihat. Kita bisa begitu terpikat oleh pesona pasangan hingga mengabaikan tanda-tanda bahaya yang muncul. Beberapa orang bahkan memilih untuk memaafkan perlakuan buruk hanya demi menjaga perasaan cinta, kenyamanan emosional, atau menghindari kesepian.
Hubungan yang tidak sehat tidak selalu ditandai oleh pertengkaran besar. Justru, sering kali diawali dengan pola-pola kecil yang berulang dan bertahan lama, yang secara perlahan mengikis harga diri, kebahagiaan, dan stabilitas emosional salah satu atau kedua pihak. Berikut adalah tiga indikator utama yang sering ditemukan dalam hubungan disfungsional:
1. Salah Satu atau Keduanya Memiliki Riwayat Kriminal atau Perilaku Antisosial
Dalam banyak kasus konseling hubungan, ditemukan bahwa salah satu pasangan memiliki catatan kriminal. Pada awalnya, hal ini mungkin tidak terlihat sebagai masalah besar. Banyak orang percaya bahwa setiap orang bisa berubah. Namun, realitasnya lebih kompleks.
Mengapa riwayat kriminal bisa menjadi tanda hubungan disfungsional? Karena pola perilaku berulang sering muncul kembali. Orang dengan latar belakang kriminal biasanya sulit bertanggung jawab atas tindakan mereka, yang dapat memengaruhi dinamika hubungan. Selain itu, risiko bagi pasangan juga tinggi, seperti terseret masalah hukum atau finansial.
Studi menunjukkan bahwa individu dengan riwayat kriminal cenderung berpasangan dengan orang yang rentan secara emosional atau trauma. Kombinasi ini menciptakan hubungan yang tidak seimbang, di mana satu pihak memanfaatkan pihak lainnya. Contohnya, seorang wanita bisa jatuh cinta pada pria dengan masa lalu kriminal, lalu membela tindakannya dengan alasan “keadaan” atau “diskriminasi.” Namun, akhirnya, pola lama muncul kembali, menyebabkan hubungan penuh drama, manipulasi, dan bahkan kekerasan.
Intinya: jika tidak ada perubahan nyata, hubungan tersebut kemungkinan besar tetap disfungsional.
2. Salah Satu Pihak Menguasai dan Mendominasi yang Lain
Dalam hubungan sehat, kekuasaan harus seimbang. Tidak ada pihak yang merasa lebih rendah atau lebih tinggi. Namun, dalam hubungan disfungsional, sering kali salah satu pasangan mengambil alih kendali sepenuhnya.
Bentuk dominasi bisa terlihat dalam berbagai aspek, seperti emosional, finansial, sosial, dan psikologis. Misalnya, pasangan bisa mendikte bagaimana Anda merasa, mengontrol uang, melarang Anda bertemu teman atau keluarga, atau menggunakan pujian secara selektif agar Anda bergantung padanya.
Dampak dari dominasi ini bisa sangat merusak. Rasa percaya diri bisa ikut terikis, rasa tidak berdaya muncul, dan ketergantungan emosional meningkat. Penelitian menunjukkan bahwa ketidakseimbangan kekuasaan dalam hubungan meningkatkan risiko perceraian karena hilangnya rasa saling menghormati.
Contoh nyata adalah seorang wanita yang sangat membutuhkan validasi emosional bisa jatuh ke dalam perangkap pasangan manipulatif. Pria tersebut tahu kelemahannya dan memanfaatkannya untuk mengendalikan semua keputusan. Meski ia berkata “Aku mencintaimu,” tindakannya justru menunjukkan pengkhianatan.
Intinya: hubungan yang sehat memberi ruang bagi kedua belah pihak. Jika hanya satu orang yang memegang kendali, itu tanda besar adanya disfungsional.
3. Perkataan Tidak Pernah Selaras dengan Perbuatan
Pepatah mengatakan, “Tindakan berbicara lebih keras daripada kata-kata.” Dalam hubungan, hal ini benar-benar berlaku. Pasangan disfungsional sering kali pandai berkata manis, berjanji setia, berjanji berubah, atau memperlakukan Anda lebih baik. Namun, janji-janji itu jarang diwujudkan.
Ciri-ciri ketidaksesuaian antara perkataan dan perbuatan bisa terlihat dari janji kencan yang tidak ditepati, berkata cinta tapi tetap selingkuh, mengaku peduli tapi mengabaikan kebutuhan emosional pasangan, atau mengatakan ingin membangun masa depan tapi tidak ada tindakan nyata.
Dampak psikologis dari hal ini bisa sangat dalam. Pasangan yang terus-menerus menunggu janji ditepati akhirnya merasa lelah dan kehilangan rasa percaya. Banyak orang akhirnya menjaga jarak, merasa tidak lagi penting, dan perlahan kehilangan ikatan batin.
Penelitian menunjukkan bahwa ketidaksesuaian antara perkataan dan perbuatan adalah salah satu penyebab utama retaknya pernikahan, karena tidak ada fondasi kepercayaan yang bisa dipertahankan.
Intinya: cinta sejati bukan sekadar kata-kata, melainkan konsistensi tindakan yang nyata.
Mengapa Seseorang Tetap Bertahan?
Banyak orang bertanya, mengapa seseorang tetap bertahan meskipun tanda-tandanya jelas? Alasannya bisa beragam, seperti takut kesepian, ketergantungan emosional, harapan akan perubahan, atau tekanan sosial atau keluarga. Namun, langkah pertama untuk mengatasi masalah adalah kesadaran. Tanpa mengakui ada masalah, perubahan tidak akan mungkin terjadi.
Langkah Praktis yang Bisa Dilakukan
Beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan antara lain:
* Refleksi pribadi: tulis apa saja yang membuat Anda tidak bahagia dalam hubungan.
* Komunikasi terbuka: sampaikan perasaan Anda dengan tenang dan jelas.
* Tentukan batasan: jangan biarkan pasangan melanggar nilai atau prinsip Anda.
* Cari dukungan: bicaralah dengan teman dekat, keluarga, atau konselor profesional.
* Berani membuat keputusan: jika pasangan tidak mau berubah, meninggalkan hubungan bisa jadi pilihan terbaik untuk kesehatan mental Anda.
Hubungan yang sehat dibangun atas dasar kepercayaan, rasa hormat, dan konsistensi. Namun, ketika dua orang terjebak dalam pola:
* Riwayat kriminal atau perilaku antisosial,
* Ketidakseimbangan kekuasaan, dan
* Ketidaksesuaian antara kata dan tindakan,
…maka besar kemungkinan mereka berada dalam hubungan yang sangat disfungsional.
Cinta tidak boleh dijadikan alasan untuk menerima perlakuan buruk. Tindakan nyata jauh lebih penting daripada kata-kata manis. Dengan mengenali tanda-tanda ini lebih awal, Anda bisa menyelamatkan diri atau orang yang Anda sayangi dari hubungan yang beracun.










