Lenjongan: Rasa Tradisional yang Tetap Segar di Pasar Gede Solo

Kenikmatan Sederhana yang Terus Bertahan
Di tengah keramaian Pasar Gede yang memiliki sejarah panjang, aroma manis dari kelapa dan gula merah bercampur dengan lembutnya suara orang berbelanja. Di antara berbagai penjual jamu, sayuran, dan jajanan pasar, lenjongan tetap berdiri kokoh sebagai bagian tak terpisahkan dari kuliner tradisional Solo. Hidangan ini tidak hanya menyediakan rasa yang lezat, tetapi juga membawa makna yang dalam bagi masyarakat setempat.
Lenjongan adalah hidangan sederhana yang terdiri dari berbagai jenis rebusan seperti singkong, ketela, cenil, dan getuk. Semua bahan tersebut disiram dengan parutan kelapa muda dan lelehan gula merah cair yang khas. Harganya sangat terjangkau, hanya sekitar enam ribu rupiah per porsi. Namun, nilai yang terkandung di dalamnya jauh lebih tinggi dari sekadar angka. Lenjongan merupakan warisan budaya yang dijaga oleh warga Solo selama bertahun-tahun.
Di dalam Pasar Gede, terdapat lebih dari lima penjual lenjongan yang setia berdagang setiap hari. Mereka menyebar di beberapa sudut pasar, menciptakan suasana yang khas dengan tampilan jajanan tradisional yang berwarna-warni di atas tampah bambu. Setiap pedagang memiliki ciri khas tersendiri, mulai dari campuran bahan hingga kekentalan gula merahnya. Meskipun demikian, semua penjual memiliki dasar resep yang sama, yaitu turun-temurun dari generasi ke generasi.
Pasar Gede bukan hanya tempat berjualan, tetapi juga menjadi ruang hidup bagi kuliner Jawa untuk tetap bertahan di tengah arus modernitas. Di sini, lenjongan bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga simbol kesederhanaan dan kebersamaan. Bagi masyarakat Solo, lenjongan sering dianggap sebagai menu wajib saat “mlipir” atau singgah ke pasar. Ini menjadi ritual kecil untuk menikmati cita rasa masa lalu di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern.
Meski banyak jajanan modern dan kafe yang bertebaran di pusat kota, lenjongan tetap memiliki tempat istimewa di hati warga. Bahkan, generasi muda mulai kembali melirik jajanan ini. Tidak hanya karena rasanya yang khas, tetapi juga karena nilai nostalgia yang dihadirkannya. Setiap sendokannya menghadirkan kenangan akan masa kecil, ketika jajanan seperti ini menjadi pengisi sore hari di teras rumah atau teman ngobrol di acara keluarga.
Keberadaan lenjongan di Pasar Gede menjadi bukti bahwa kuliner tradisional masih mampu bertahan tanpa kehilangan jati dirinya. Sederhana, manis, dan jujur, seperti filosofi hidup orang Jawa itu sendiri. Selama ada yang setia menjaga dan menikmatinya, lenjongan akan selalu menjadi bagian dari denyut kehidupan Pasar Gede Solo.










