
Bisnis, Bericuan.id – Penutupan ratusan gerai Alfamart sepanjang tahun ini telah menjadi berita yang mengejutkan banyak pihak. Di balik kabar tersebut, terselip kisah pilu para tukang parkir Alfamart yang menggantungkan hidup mereka pada keramaian pelanggan gerai ini. Salah satu kisah datang dari Bachtiar, seorang pria 60 tahun yang sudah bertahun-tahun menjadi tukang parkir Alfamart di Depok.
Bachtiar mengungkapkan kekhawatirannya setelah mendengar kabar penutupan ini. “Kalau benar-benar tutup, pemasukan saya semakin berkurang,” katanya saat ditemui di lokasi tempatnya bekerja. Dengan jam kerja dari pukul 12.00 hingga 16.00 WIB.
Bachtiar mengaku seringkali hanya mendapatkan penghasilan kurang dari Rp 30.000 sehari. Sebagai tukang parkir Alfamart yang bekerja dengan sistem sukarela, ia tidak pernah memaksa pelanggan untuk membayar.
Namun, tekanan bertambah ketika harus berbagi waktu dengan tiga juru parkir lainnya. “Kalau jaga dari pagi sampai sore, mungkin bisa dapat Rp 50.000. Tapi saya selalu dapat jadwal siang yang sepi,” keluhnya. Meski begitu, Bachtiar masih mencoba bertahan dengan memanfaatkan keterampilannya menyetir mobil sebagai sumber penghasilan tambahan.
Kisah Tukang Parkir Alfamart di Bogor
Kisah serupa juga dialami oleh Nasrullah, seorang tukang parkir di sebuah gerai Alfamart di Bogor Barat. Ia mengaku sangat khawatir kehilangan sumber pendapatan utamanya. “Kalau Alfamart tutup, saya bingung mau kerja apa lagi,” ucap pria berusia 48 tahun tersebut.
Sebagai kuli bongkar muat yang hanya bekerja sesekali, menjaga parkir di Alfamart menjadi penolong untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah anak-anaknya.
Namun, tantangan terbesar bagi Nasrullah adalah sepinya pelanggan karena lokasi gerai berada di jalur cepat. “Pendapatan sehari paling Rp 50.000 sampai Rp 100.000, tapi itu juga tergantung ramai tidaknya pengunjung,” tuturnya. Meski demikian, ia berharap masih bisa mencari peluang di sekitar lokasi gerai, seperti menjaga parkir di ruko sebelah jika Alfamart benar-benar tutup.
Mngutip dari Kompas, penutupan ratusan gerai Alfamart ini memang tak lepas dari alasan finansial. Menurut Corporate Affairs Director PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk, Solihin, biaya sewa yang semakin mahal dan keputusan para pemegang waralaba untuk beralih usaha menjadi alasan utama. Namun, keputusan ini tentu berdampak luas, terutama bagi pekerja informal seperti tukang parkir Alfamart.
Bagi para tukang parkir Alfamart seperti Bachtiar dan Nasrullah, masa depan mereka kini penuh ketidakpastian. Penutupan ratusan gerai Alfamart berarti hilangnya akses mudah untuk mendapatkan penghasilan. Meski mereka masih berusaha mencari jalan keluar, pertanyaan besar tetap menggantung: sampai kapan mereka bisa bertahan di tengah kondisi yang semakin sulit?
Fenomena ini menjadi pengingat akan pentingnya mendukung pekerja informal yang rentan terkena dampak kebijakan bisnis besar. Karena, di balik setiap keputusan, ada banyak nyawa yang bergantung pada stabilitas ekonomi di sekitarnya. (*)







