Rp319 Juta Hilang, 17 Anggota Keluarga Gagal Umrah Diduga Akibat Travel Bermasalah

Keluarga dari Desa Tagengser Laok Gagal Berangkat Umrah karena Dugaan Penipuan
Sebuah kekecewaan besar menimpa 17 anggota keluarga asal Desa Tagengser Laok, Kecamatan Waru, Kabupaten Pamekasan. Mereka berharap dapat melaksanakan ibadah umrah yang sudah lama direncanakan, namun harapan tersebut pupus sehari sebelum keberangkatan. Diduga, mereka menjadi korban penipuan oleh sebuah biro perjalanan setelah visa tidak kunjung diurus meskipun pembayaran telah dilakukan secara penuh.
Setiya Cahyaningrum (32) mengungkapkan bahwa ia telah membayar dana sebesar Rp 319 juta untuk 17 paket umrah melalui PT Anisa Berkah Wisata. Setiap orang membayar sebesar Rp 18,5 juta, ditambah biaya kamar hotel sebesar Rp 5 juta. Dana tersebut dibayarkan kepada Siti Khoirun Nisa, pemilik biro perjalanan tersebut.
Keberangkatan Batal Sehari Sebelum Terbang
Jadwal keberangkatan yang semula dijadwalkan pada 7 Februari 2026 mendadak batal. Pada 6 Februari 2026, keluarga tersebut baru mengetahui bahwa visa untuk 17 calon jemaah belum dibeli oleh pihak travel. Setiya merasa sangat dirugikan dan malu kepada keluarga besarnya. Akibatnya, ia melaporkan kasus ini ke Polres Pamekasan pada Senin (2/3/2026).
Menurut Setiya, kekecewaannya bukan hanya terkait uang, tetapi juga harapan besar keluarga yang telah bersiap menjalankan ibadah. Bahkan, demi menepati niatnya, Setiya mendaftar ulang melalui travel lain dan tetap berangkat umrah secara pribadi.
Ia berharap kasus ini segera ditangani agar tidak ada korban lain dengan kejadian serupa.
Pihak Travel Klaim Jadi Korban Broker
Sementara itu, Siti Khoirun Nisa selaku pemilik PT Anisa Berkah Wisata membantah tuduhan penipuan. Ia mengaku juga menjadi korban dalam proses pengurusan visa. Menurut pengakuannya, dana sebesar Rp 10,5 miliar diduga dibawa kabur oleh broker umrah di Arab Saudi berinisial LS. Ia menegaskan memiliki bukti pembelian visa dan menyatakan siap bertanggung jawab.
Kasat Reskrim Polres Pamekasan, Yoyok Hardianto, menyebut laporan kemungkinan masih dalam proses administrasi di SPKT.
Imbauan Penundaan Umrah di Tengah Konflik
Di sisi lain, situasi keamanan di Timur Tengah juga menjadi perhatian pemerintah. Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mengimbau calon jemaah untuk menunda keberangkatan sementara waktu demi alasan keselamatan.
Plt Kepala Kanwil Kemenhaj Jatim, Asadul Anam, menyatakan pihaknya telah meneruskan arahan pusat kepada seluruh Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) di Jawa Timur agar mempertimbangkan risiko keamanan secara matang.
Saat ini, sekitar 9.400 jemaah umrah asal Jawa Timur dilaporkan masih berada di Arab Saudi. Pemerintah berharap seluruh jemaah tetap tenang dan mengikuti arahan resmi dari maskapai, PPIU, serta perwakilan RI di sana.
Pentingnya Memastikan Legalitas Biro Perjalanan
Kasus gagal berangkatnya 17 anggota keluarga ini pun menjadi pengingat pentingnya memastikan legalitas dan kredibilitas biro perjalanan sebelum melakukan pembayaran dalam jumlah besar.










