Internasional

Dampak Perang AS-Israel-Iran pada Wisata Bali: Pembatalan Hotel hingga Pesawat

Dampak Konflik Timur Tengah terhadap Pariwisata Bali

Konflik antara Amerika-Israel dengan Iran telah memberikan dampak yang signifikan tidak hanya terhadap harga minyak tetapi juga terhadap masa depan pariwisata di Bali. Hingga saat ini, dampak dari perang yang terjadi di kawasan Timur Tengah tersebut sudah mulai terasa, termasuk pembatalan penginapan dan penerbangan. Hal ini tentu akan berdampak besar terhadap pariwisata Bali yang sangat bergantung pada kondisi keamanan global.

Berikut beberapa dampak yang sudah terasa bagi pariwisata Bali usai meningkatnya ketegangan antara Amerika-Israel dengan Iran:

  • Pembatalan Menginap Capai 30 Persen

    Ketua Bali Villa Rental and Management Association (BVRMA), I Kadek Adnyana, mengungkapkan sejak perang berlangsung, telah terjadi pembatalan yang tercatat dari anggota mencapai sekitar 30 persen. “Sementara ini villa management dan villa rental melaporkan pembatalan sekitar 20 sampai 30 persen,” jelasnya. Pembatalan dipicu oleh penutupan jalur penerbangan di sejumlah negara akibat perang. Dampaknya terutama terasa dari pasar Eropa dan Timur Tengah.

  • Pesawat Asal Timur Tengah Parkir di Bandara

    Sejak Sabtu 28 Februari 2026 hingga Selasa 3 Maret 2026 terdapat lima pesawat asal Timur Tengah masih parkir di parking stand Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Lima pesawat ini di antaranya dua armada milik Emirates dengan tipe Airbus A380 nomor registrasi A6-EVA dan tipe Boeing 777 dengan registrasi A6-ENA, dua armada Qatar Airways tipe Boeing 787-8 Dreamliner nomor registrasi A7-BCQ dan tipe Boeing 787-8 Dreamliner nomor registrasi A7-BCA, serta satu armada Etihad Airways tipe Boeing 787-9 Dreamliner dengan registrasi A6-BLN. Kelima pesawat ini merupakan pesawat wide body atau berbadan lebar yang membutuhkan space atau ruang parkir lebih besar dari pesawat narrow body atau berbadan sempit. Maka dari itu, pihak Angkasa Pura Indonesia (API atau InJourney Airports) selaku pengelola Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali menempatkan kelima pesawat itu di parking stand khusus.

  • Pelaku Wisata Khawatir

    Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya menjelaskan bahwa para pelaku pariwisata mulai was-was dengan konflik yang terjadi di Timur Tengah tersebut. Menurutnya pariwisata di Bali sangat dipengaruhi dengan adanya perang di Timur Tengah. Hal itu bisa dibuktikan dengan adanya penundaan penerbangan, dari Middle East atau negara-negara yang berada di Timur Tengah. “Sangat berpengaruh perang ini dengan pariwisata kita di Bali. Apalagi penerbangan internasional ada yang tertunda khususnya untuk di Middle East,” ujarnya. Kendati demikian, Rai Suryawijaya belum berani memastikan berapa persen perang itu akan mempengaruhi Bali, namun dipastikan dampaknya pasti akan dirasakan. Dia mengakui kunjungan wisatawan pasti akan turun karena keamanan global terganggu.

  • Belasan Penerbangan Dibatalkan

    Sejak Sabtu (28/2) hingga Senin 2 Maret 2026, sudah belasan penerbangan dibatalkan dampak memanasnya konflik di Timur Tengah. “Hingga Senin 2 Maret 2026 pukul 13.00 WITA, terdapat total 15 penerbangan rute internasional terdiri dari 8 keberangkatan dan 7 kedatangan yang mengalami pembatalan penerbangan,” kata Communication and Legal Division Head PT Angkasa Pura Indonesia Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Gede Eka Sandi Asmadi. Namun demikian, dapat kami sampaikan bahwa operasional penerbangan dan pelayanan kebandarudaraan di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali secara umum tetap berjalan dengan normal dan optimal. Manajemen PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) selaku pengelola Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali secara berkesinambungan terus melakukan pemantauan situasi ruang udara di kawasan Timur Tengah. Selain itu kami terus melakukan koordinasi dengan sejumlah instansi, utamanya dengan maskapai penerbangan untuk terus melakukan pembaruan jadwal penerbangan dan penanganan calon penumpang yang telah berada di bandara, dengan AirNav Indonesia untuk memantau ruang udara yang terdampak, serta dengan aparatur keamanan untuk antisipasi situasi keamanan di bandara. “Berdasarkan data dari maskapai penerbangan, jumlah calon penumpang dari penerbangan yang mengalami penyesuaian jadwal penerbangan tersebut berjumlah 3.197 penumpang, di mana data tersebut merupakan jumlah calon penumpang keberangkatan,” ungkap Gede Eka Sandi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button