Amankah Bioetanol untuk Performa Mesin Kendaraan?

Pemerintah telah menetapkan kebijakan wajib pencampuran bahan bakar minyak (BBM) dengan bioetanol hingga 10 persen atau E10 pada tahun 2027. Tujuan utamanya adalah untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM dan sekaligus memperkenalkan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan. Namun, kebijakan ini tidak lepas dari berbagai kontroversi yang muncul sejak lama.
Salah satu isu utama yang sering dikemukakan adalah dampak penggunaan bioetanol terhadap performa mesin kendaraan. Banyak pihak meragukan kemampuan bioetanol dalam bersaing dengan bensin, terutama karena sifatnya yang higroskopis—mudah menyerap air—yang bisa menyebabkan korosi pada komponen mesin. Selain itu, iklim tropis Indonesia yang lembap juga menjadi pertanyaan besar bagi penggunaan bahan bakar ini.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Profesor Teknik Mesin di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Bambang Sudarmanta, memberikan penjelasan mendalam tentang potensi dan tantangan bioetanol sebagai bahan bakar alternatif. Menurutnya, bioetanol merupakan bahan bakar yang ramah lingkungan karena bersifat karbon netral. Artinya, emisi karbondioksida (CO2) yang dihasilkan saat pembakaran dapat diserap kembali oleh tanaman yang menjadi bahan baku produksi bioetanol.
Selain itu, Bambang menekankan bahwa bioetanol memiliki sifat fisikokimia yang mirip dengan bensin, sehingga cocok digunakan sebagai campuran maupun pengganti sebagian bensin. Ia juga menyebutkan bahwa potensi bahan baku seperti tebu dan singkong yang melimpah di Indonesia membuat bioetanol menjadi solusi strategis untuk mengurangi emisi serta memperkuat ketahanan energi nasional.
Bambang mengatakan bahwa pencampuran bioetanol hingga 5 hingga 10 persen dalam bensin relatif tidak mengurangi performa kendaraan. “Baru pada kadar 15 hingga 20 persen, performa mesin mulai menurun,” ujarnya. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan E10 yang dicanangkan pemerintah masih dalam batas aman.
Selain itu, bioetanol memiliki angka oktan yang tinggi, berkisar antara 108 hingga 120. Angka ini membuat proses pembakaran lebih efisien dan mengurangi risiko knocking pada mesin. “Dengan demikian, mesin dapat bekerja lebih stabil bahkan di kondisi tekanan dan suhu tinggi,” tambahnya.
Namun, Bambang juga tidak menyangkal bahwa bioetanol memiliki sifat higroskopis, terutama di iklim lembap Indonesia. Sifat ini membuatnya mudah menyerap air, sehingga berpotensi menyebabkan korosi pada logam maupun bahan karet. Untuk mengatasi hal ini, ia menyarankan adanya adaptasi material dan perawatan sistem bahan bakar yang tepat guna menjaga kualitas bioetanol.
Di sisi lain, Bambang juga menyebutkan bahwa bioetanol memiliki nilai kalor yang lebih rendah dibanding bensin, sekitar 35 persen. Hal ini berdampak pada energi yang dihasilkan saat pembakaran. Namun, ia menegaskan bahwa efek ini tidak signifikan pada kadar campuran rendah hingga 10 persen.
Melihat potensi dan tantangan yang ada, Bambang menilai bahwa penerapan bioetanol sebagai bahan bakar campuran harus dilakukan secara menyeluruh. Mulai dari pasokan bahan baku, teknologi pencampuran dan penyimpanan yang sesuai, hingga sistem distribusi yang efektif. “Setiap tahap harus diawasi dengan ketat agar mutu bahan bakar tetap stabil,” ujarnya.










