Gaji Petani untuk Bangkitkan Sawah Terdampak Bencana di Sumatera

Program pemerintah dalam rangka memulihkan lahan pertanian yang terdampak bencana alam kini berjalan dengan skema padat karya. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan bahwa program ini bertujuan untuk membantu petani mengembalikan kondisi sawah mereka sekaligus memberikan pendapatan sementara proses pemulihan berlangsung.
Tujuan dan Target Program
Program ini fokus pada tiga provinsi yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Ketiga wilayah tersebut menjadi prioritas utama karena dampak bencana yang cukup besar terhadap lahan pertanian. Pemulihan lahan ini juga dilakukan guna menjaga produksi pangan nasional agar tetap stabil.
Amran menegaskan bahwa melalui skema ini, petani tidak hanya memperbaiki lahan mereka, tetapi juga menerima penghasilan harian selama proses pemulihan berlangsung. Hal ini penting untuk memastikan keberlanjutan ekonomi para petani di tengah situasi sulit akibat bencana.
Mekanisme Pelaksanaan
Pemerintah pusat akan menanggung biaya rehabilitasi, termasuk bantuan benih, pengolahan tanah, serta perbaikan irigasi. Petani diberdayakan dengan bekerja langsung di lahan mereka sendiri, sehingga mereka bisa merasakan manfaat secara langsung. Upah harian yang diterima oleh petani cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Saudara kita punya pendapatan, sementara benih dibantu gratis, pengolahan tanah, dan perbaikan irigasi semuanya dibantu pusat. Ini perintah langsung Bapak Presiden,” ujar Amran.
Luasan Kerusakan dan Target Rehabilitasi
Secara keseluruhan, luasan lahan sawah yang terkena dampak bencana mencapai 98.002 hektare. Dari jumlah tersebut, sebanyak 69.240 hektare mengalami kerusakan ringan hingga sedang. Sementara itu, kerusakan berat hanya sekitar 28.762 hektare.
Aceh menjadi wilayah yang paling terdampak dengan total kerusakan mencapai 54.233 hektare di 21 kabupaten dan kota. Diikuti oleh Sumatera Utara dengan 37.318 hektare dan Sumatera Barat dengan 6.451 hektare.
Khusus untuk Aceh, sebanyak 32.652 hektare lahan mengalami kerusakan ringan dan sedang. Angka ini terdiri dari 25.950 hektare rusak ringan dan 6.702 hektare rusak sedang. Sementara itu, Sumatera Utara mencatat 32.964 hektare kerusakan ringan dan sedang, sedangkan Sumatera Barat hanya 3.624 hektare.
Tahapan Pemulihan
Kementerian Pertanian memprioritaskan rehabilitasi lahan yang mengalami kerusakan ringan dan sedang. Proses pemulihan akan dilakukan mulai Januari hingga Februari 2026. Target total rehabilitasi di tiga provinsi mencapai 13.708 hektare, dengan rincian Aceh 6.530 hektare, Sumatera Utara 6.593 hektare, dan Sumatera Barat 3.624 hektare.
“Kami mulai dari yang ringan dan sedang, baru terakhir yang berat. Sekitar 90 sampai 95 persen akan kami selesaikan lebih dulu,” jelas Amran.
Tenaga Kerja dan Waktu Pemulihan
Dalam program ini, diperlukan sekitar 200.000 hari orang kerja (HOK) untuk memulihkan lahan di Aceh. Pembayaran dilakukan secara harian sesuai dengan upah yang telah ditetapkan. Lahan yang mengalami kerusakan ringan hingga sedang ditargetkan selesai dalam waktu maksimal tiga bulan.
“Khusus Aceh, bersamaan dengan Sumatera Utara dan Sumatera Barat, yang ringan dan sedang maksimal tiga bulan sudah selesai,” tambahnya.
Program ini merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam mendukung sektor pertanian dan menjaga ketahanan pangan nasional. Dengan mekanisme padat karya, diharapkan dapat memberikan dampak positif baik secara ekonomi maupun sosial bagi para petani.










