Bisnis

Program MBG Bantu Petani, Ekonomi Desa Berkembang


JAKARTA — Program MBG (Makan Bergizi Gratis) telah menunjukkan dampak yang signifikan terhadap sektor pertanian. Selain menyediakan makanan bergizi bagi anak-anak, program ini juga memberikan peluang pasar yang jelas bagi hasil pertanian dalam negeri. Dengan adanya MBG, petani kini memiliki pembeli tetap sehingga tidak lagi mengalami kesulitan dalam menjual hasil panen mereka.

Salah satu manfaat utama dari program ini adalah memberikan kepastian bahwa hasil tanam petani akan selalu dibutuhkan dan diserap. Hal ini membantu mengurangi ketidakpastian yang sering dialami oleh para petani akibat fluktuasi harga di pasar tradisional. Ketua Umum DPN Tani Merdeka Indonesia, Don Muzakir, menyebut MBG sebagai langkah strategis yang efektif dalam menghubungkan sektor pertanian dengan kebutuhan gizi anak-anak sekolah.

Don Muzakir menjelaskan bahwa MBG telah memberikan kepastian yang sangat dibutuhkan oleh petani. Ia mengatakan, “Program MBG sangat baik karena mampu menyerap banyak hasil panen petani. Petani tidak lagi bingung mencari pasar. Hasil tanam mereka jelas dibutuhkan dan terserap.”

Selain itu, perputaran ekonomi di tingkat desa juga ikut bergerak. Pendapatan petani meningkat secara signifikan ketika hasil panen mereka terserap stabil. Aktivitas produksi, distribusi, hingga konsumsi menjadi lebih dinamis dan aktif. Don Muzakir menambahkan, “Ketika hasil panen terserap dengan baik, pendapatan petani meningkat. Roda ekonomi desa ikut bergerak. Produksi, distribusi, sampai konsumsi menjadi lebih hidup.”

Ia berharap agar program ini dapat berjalan secara konsisten dan berkelanjutan. Keberlanjutan sangat penting agar petani tetap termotivasi untuk menanam dan anak-anak tetap mendapatkan asupan gizi yang cukup. “Program ini harus terus diperkuat. Keberlanjutan sangat penting agar petani tetap semangat menanam dan anak-anak tetap mendapatkan asupan gizi,” ujar Don Muzakir.

Tani Merdeka Indonesia juga mendukung Kementerian Pertanian yang telah mendorong peningkatan produksi pertanian. Ketersediaan hasil pertanian berkualitas menjadi kunci kelancaran pasokan bahan pangan untuk MBG. Don Muzakir menekankan, “Sinergi antar kementerian harus dijaga. Kementerian Pertanian sudah mendorong produksi. Kementerian lain juga harus memastikan distribusi dan pelaksanaan berjalan baik.”

Evaluasi pelaksanaan program juga diperlukan. Pendataan, pengawasan, dan distribusi perlu diperbaiki jika ditemukan kendala di lapangan. “Jika masih ada kekurangan, segera diperbaiki. Pengawasan dan distribusi harus tepat sasaran agar manfaatnya benar-benar dirasakan,” kata Don Muzakir.

Sebelumnya, produksi pertanian di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, meningkat tajam. Permintaan hortikultura melonjak, terutama dari dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Lonjakan permintaan ini membuat sejumlah petani kewalahan, hal yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Permintaannya banyak, petani tidak memenuhi,” ujar Gili Jenadi, petani dari Kelurahan Bangka Leda, Kecamatan Langke Rembong. Ia mengaku bersyukur hasil tanamannya terserap baik. Ia menanam buncis sesuai permintaan SPPG. Seluruh hasil panen langsung diborong.

“Tahun 2025 kemarin, saya punya buncis kurang lebih 3 ribu pohon, hasilnya dibeli semuanya untuk kebutuhan MBG,” katanya. Ia juga menanam tomat dan cabai keriting. Ia menyiapkan brokoli untuk masa tanam berikutnya.

“Sebelumnya saya tidak berani. Kebutuhan wortel sangat tinggi sekali untuk MBG,” jelasnya. Pengalaman itu mendorongnya memperluas jenis hortikultura. Kepastian pasar membuat petani berani meningkatkan produksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button