IndustriKeuangan

Daya Beli Kelas Menengah Indonesia Anjlok: Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Keuangan, Bericuan.id – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengadakan pertemuan penting di kantornya bersama sejumlah mantan Menteri Koordinator Perekonomian dan pejabat tinggi lainnya.

Pertemuan tersebut membahas potensi dan tantangan kelas menengah di Indonesia, yang selama ini dianggap sebagai pendorong utama perekonomian nasional.

Indonesia telah mengalami deflasi selama tiga bulan berturut-turut. Deflasi ini, meskipun memberikan keuntungan sementara bagi konsumen, menandakan adanya penurunan daya beli yang cukup serius.

Menurut Didik J. Rachbini, ekonom senior dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), penurunan daya beli ini menunjukkan bahwa konsumen menunda pembelian atau bahkan tidak mampu melakukan konsumsi seperti biasanya.

Rangga Cipta, Chief Economist Mandiri Sekuritas, juga menyatakan bahwa setelah pandemi COVID-19, perekonomian Indonesia mulai pulih.

Namun, daya beli kelas menengah justru mengalami stagnasi. “Setelah reopening, justru kelas menengah mengalami perlambatan, terutama karena adanya isu di sektor manufaktur yang mengalami pelambatan global,” jelas Rangga pada Rabu, 7 Agustus 2024.

Upaya Mengatasi Penurunan Konsumsi Daya Beli Kelas Menengah

Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi penurunan daya beli kelas menengah ini. Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa sejumlah program telah diluncurkan, termasuk perlindungan sosial, insentif pajak, dan program Prakerja.

Salah satu kebijakan penting adalah peningkatan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk sektor perumahan, yang kini mencapai 100 persen hingga Desember 2024.

ppn naik 12 persen
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (ekon.go.id)

Selain itu, pemerintah juga meningkatkan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), dari 166 ribu unit menjadi 200 ribu unit. Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan kelas menengah dan mendorong sektor konsumsi.

Meskipun demikian, tantangan bagi kelas menengah masih besar. Ketua Umum Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), Budihardjo Iduansjah, menyatakan bahwa konsumsi kelas menengah mengalami penurunan karena berbagai faktor, termasuk persaingan dengan produk impor yang dijual secara online.

Namun, ada harapan bahwa daya beli kelas menengah akan meningkat dalam 6-12 bulan ke depan, seiring dengan pemulihan investasi.

“Siklus konsumsi kelas menengah sangat bergantung pada siklus investasi. Jika investasi meningkat, maka pendapatan kelas menengah juga akan meningkat,” kata Rangga Cipta.

Kelas menengah memainkan peran penting dalam perekonomian Indonesia. Namun, tantangan yang mereka hadapi saat ini, terutama dalam hal daya beli, memerlukan perhatian serius dari pemerintah dan sektor swasta.

Melalui berbagai kebijakan dan dorongan investasi, diharapkan daya beli kelas menengah dapat pulih dan kembali menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button