Strategi Dieng Caldera Race 25K, Lomba yang Menguji Fisik dan Mental di Gunung Sindoro

Dieng Caldera Race bukan sekadar lomba lari trail. Dari pengalaman saya mengikuti kategori 25K pada Minggu, 21 Juni 2026, ajang ini benar-benar menguji kemampuan membaca medan, mengatur tenaga, hingga mengambil keputusan di setiap kilometer lintasan.
Saya memang sudah cukup lama berkecimpung di olahraga trail run, tetapi lintasan kali ini tetap memberikan pengalaman yang berbeda. Jalur yang mengitari gunung Sindoro dari Jalur Ndoro Arum via Kalitengah, perpaduan ladang warga, hutan, punggungan, hingga kebun teh membuat lomba ini terasa lengkap.
Start dilakukan pukul 03.30 WIB dari Tambi Tea Resort, Wonosobo. Beruntung saya menginap sekitar 200 meter dari lokasi start sehingga tidak perlu terburu-buru sejak dini hari. Tidur bisa lebih lama dan tubuh terasa lebih segar ketika memasuki garis start.
Bagi saya, keuntungan kecil seperti ini ternyata cukup membantu menjaga kondisi tubuh sebelum menghadapi lintasan yang terkenal berat.
Kilometer Pertama Dieng Caldera Race Masih Bersahabat
5 kilometer pertama menuju Water Station (WS) 1 menjadi bagian yang cukup nyaman. Jalurnya melewati kampung warga dan ladang pertanian dengan kontur naik turun khas pegunungan.
Udara dingin dini hari menemani langkah para pelari. Menjelang adzan Subuh saya hampir tiba di WS 1. Karena jaraknya sudah tanggung, saya memutuskan melanjutkan perjalanan lalu menunaikan salat Subuh di water station.
Di sinilah strategi lomba mulai dijalankan.
Saya memilih makan kentang sebagai sumber karbohidrat sekaligus membawa beberapa potong kentang dan minuman energi rasa pisang ke dalam tas. Alasannya sederhana, setelah melihat peta lomba saya tahu tantangan sesungguhnya baru akan dimulai.
Di depan sudah menunggu tanjakan sekitar enam kilometer menuju lereng Sindoro dengan elevasi yang sangat menguras tenaga.

Pendakian Gunung Sindoro Menjadi Ujian Sesungguhnya
Selepas WS 1, jalur membawa peserta melewati ladang petani. Matahari mulai terbit dan pemandangan sebenarnya luar biasa indah.
Sayangnya, hampir tidak ada waktu menikmati panorama tersebut.
Fokus saya hanya satu, terus bergerak naik agar tidak kehilangan banyak waktu.
Pendakian melalui jalur Ndoro Arum benar-benar menguras tenaga. Tanjakan demi tanjakan datang tanpa jeda. Level tanah yang tinggi membuat betis dan paha bekerja sangat keras.
Mental mulai diuji.
Beberapa kali muncul pertanyaan dalam kepala, apakah terus lanjut atau berhenti sejenak lebih lama.
Lintasan kemudian melintasi punggungan yang dikenal dengan nama Punggung Naga. Angin bertiup sangat kencang karena jalurnya berada di sisi bukit yang terbuka.
Di sinilah saya benar-benar merasakan pentingnya menggunakan jaket windbreaker. Tanpa perlindungan dari angin, energi tubuh bisa terkuras lebih cepat hanya untuk menjaga suhu tubuh tetap stabil.
Belum selesai sampai di sana, masih ada tanjakan terkenal bernama Mertua Galak.
Namanya memang unik, tetapi tingkat “kepedasannya” benar-benar terasa di kaki.
Berpacu dengan Cut Off Point
Salah satu tekanan terbesar pada lintasan ini adalah keberadaan Cut Off Point (COP).
Peserta harus mencapai titik tertentu di lereng Sindoro maksimal enam jam setelah start. Jika terlambat, statusnya langsung berubah menjadi DNF atau Done Not Finish.
Syukurlah saya berhasil mencapai COP dalam waktu kurang dari lima jam.
Meski demikian, saya tetap tidak berani santai menikmati panorama. Target berikutnya adalah segera mencapai puncak sebelum waktu semakin mepet.
Dari COP menuju summit sebenarnya hanya sekitar satu hingga dua kilometer. Namun kemiringan jalur membuat jarak tersebut terasa jauh lebih panjang.
Sesampainya di puncak, saya mengambil gelang sebagai bukti telah mencapai summit, kemudian menyempatkan foto singkat sambil menikmati nasi telur yang sudah saya bawa sejak bawah.
Saya tahu setelah ini masih ada turunan panjang menuju Kalitengah.

Downhill yang Sama Beratnya
Banyak orang mengira turunan selalu lebih mudah.
Nyatanya tidak.
Jalur Kalitengah dekat puncak dipenuhi tanah berdebu, kerikil kecil, dan batu lepas yang membuat pijakan sangat licin.
Tidak sedikit peserta yang harus turun sambil duduk atau “prosotan” agar tidak terpeleset.
Baru setelah memasuki kawasan hutan sekitar tiga kilometer dari puncak, jalur mulai terasa lebih nyaman. Saya perlahan menambah pace downhill, meski paha dan betis sudah mulai memberikan sinyal kelelahan.
Di sinilah saya menyadari pentingnya membawa logistik yang cukup.
Sepanjang sekitar 12 kilometer dari WS 1 hingga WS 2, panitia memang menyediakan air di beberapa titik, tetapi makanan berat tidak tersedia.
Saya membawa hampir tiga liter air, terdiri atas water bladder satu liter dan dua flask sekitar 800 ml.
Persediaan tersebut ternyata sangat berguna karena di tengah perjalanan saya sempat berbagi makanan dan minuman kepada dua peserta lain yang kehabisan bekal, sementara WS berikutnya masih berjarak sekitar dua kilometer.
WS 2 Menjadi Surga Setelah Turun Gunung
Begitu tiba di pintu rimba Kalitengah, suasananya langsung berubah.
WS 2 benar-benar menjadi tempat penyelamat.
Di sana tersedia soto hangat, semangka, melon, jeruk, pisang, isotonik, hingga air putih.
Saya menikmati semangkuk soto, beberapa potong semangka dingin, lalu mengisi seluruh botol minum hingga penuh.
Masih ada sekitar 10 kilometer menuju garis akhir.
Dan ternyata penderitaan belum selesai.
Tanjakan Terakhir yang Menguras Sisa Tenaga
Selepas pintu rimba, lintasan kembali mengarah ke ladang warga.
Awalnya saya mengira bagian tersulit sudah selesai.
Ternyata tidak.
Smartwatch menunjukkan total elevation gain saya baru sekitar 2.000 meter, sementara data lomba mencatat total elevasi sekitar 2.330 meter.
Artinya masih ada sekitar 330 meter tanjakan lagi.
Dua kilometer berikutnya terasa sangat panjang.
Heart rate naik drastis sehingga saya beberapa kali berhenti untuk mengatur napas sambil membasahi tenggorokan.
Baru setelah mencapai WS 3 di jalan raya, panitia memberi informasi bahwa lima kilometer terakhir hanya menyisakan satu tanjakan pendek sebelum didominasi turunan menuju finis.
Saya kembali makan kentang dan semangka sebagai tambahan energi.

Lima Kilometer Terakhir Menjadi Momen Menikmati Lari
Informasi dari panitia ternyata benar.
Selepas satu tanjakan pendek, lintasan memasuki ladang warga dan kebun teh dengan jalur yang sangat nyaman.
Saya mulai mempercepat langkah menggunakan pace endurance sambil terus memantau heart rate.
Target saya sederhana, tetap berada di zona aerobik atau maksimal zona 2.
Jika detak jantung mulai naik, saya sedikit mengurangi kecepatan, kemudian berlari lagi ketika kondisinya stabil.
Menjelang garis finis saya melihat peluang mencatatkan waktu di bawah 11 jam.
Tanpa banyak berpikir lagi, saya menambah kecepatan.
Akhirnya saya menyentuh garis finis dengan catatan waktu resmi 10:59:01 berdasarkan timing official panitia.
Yang paling membuat saya bersyukur bukan hanya berhasil finis, tetapi tubuh masih terasa segar. Kaki tentu lelah, tetapi heart rate tetap berada di zona aerobik dan kondisi badan masih sangat nyaman.
Catatan Penting untuk Peserta DCR Berikutnya
Bagi siapa pun yang berencana mengikuti dieng caldera race 2026, ada beberapa pelajaran yang saya rasakan sangat penting.
- Latihan strength seluruh tubuh wajib dilakukan karena lintasan dipenuhi tanjakan dan turunan panjang.
- Biasakan latihan lari di zona 2 agar tubuh mampu bertahan dalam durasi panjang.
- Latihan interval penting untuk mempersiapkan jantung menghadapi perubahan intensitas di medan pegunungan.
- Bawalah minimal 1,5 hingga 2 liter air ketika meninggalkan WS 1 karena jarak menuju WS berikutnya cukup jauh.
- 5iapkan makanan berkarbohidrat dan mengandung gula sebagai bahan bakar tambahan.
- Perlengkapan seperti windbreaker, sarung tangan, topi, serta jas hujan yang layak sebaiknya tidak dianggap sebagai beban tambahan. Di lereng gunung, perlengkapan tersebut justru menjadi investasi kenyamanan dan keselamatan.

Bagi saya, Dieng Caldera Race bukan hanya soal mengejar catatan waktu. Ajang ini mengajarkan bahwa trail running adalah perpaduan antara kekuatan fisik, strategi, manajemen energi, dan kemampuan menjaga mental ketika tubuh mulai lelah.
Melintasi ladang warga, menyusuri Punggung Naga, menaklukkan Sindoro, lalu kembali turun hingga finis menjadi pengalaman yang akan selalu saya ingat. Jika suatu saat ada kesempatan kembali ke lintasan ini, saya tahu tantangannya tetap sama berat. Namun justru di situlah letak daya tariknya.



















