Waspada Dampak Resesi Amerika Bagi Indonesia

Keuangan, Bericuan.id – Resesi yang besar kemungkinan akan di hadapi AS, mau tidak mau akan berdampak bagi Indonesia. Dampak dari pelemahan ekonomi AS ini sejatinya juga sudah mulai terasa.
Merujuk data yang dilansir Bloomberg, dari 21 Juni 2023 ke 21 Juni 2024, rupiah telah melemah sekitar 8,45 persen. Kurs rupiah sendiri pada Selasa 6 Agustus 2024 ini berada di Rp16.160 per USD.
Adapun pertumbuhan ekonomi Indonesia juga mulai melambat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diumumkan pada 5 Agustus 2024, pertumbuhan ekonomi kuartal II-2024 Indonesia mencapai 5,05% secara tahunan. Angka ini lebih rendah jika dibandingkan kuartal I-2024, sebesar 5,11%.
Selain itu, tingginya suku bunga AS berdampak terhadap minat investor membeli surat utang pemerintah Indonesia.
Dampak Resesi Amerika ke APBN
Dampak resesi Amerika ini dinilai akan menyulitkan pemerintah dalam mencari pembiayaan untuk program-program tahun 2025, menutup defisit Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2024 dan membayar hutang jatuh tempo yang akan semakin besar pada tahun depan.
Para pelaku usaha dan bisnis juga akan terkena dampak. Selain dari tingginya bunga, mereka juga terdampak dari kemungkinan pelemahan ekspor Indonesia ke AS dikarenakan permintaan dalam negeri AS yang menurun.
Meskipun ekspor Indonesia ke AS tidak sebesar ke China, banyak bahan baku atau barang setengah jadi yang dikirim ke China berakhir di pasar AS.
Pasar saham Indonesia sendiri pada selasa 6 Agustus 2024 memang mengalami rebound. Namun penguatan ini belum menutup koreksi IHSG pada 5 Agustus 2024 yang turun sedalam -248,47 poin (-3,3999%) ke 7.059,65.
IHSG pada selasa 6 Agustus 2024 menguat +69,562 atau +0,99% ke posisi 7.129,215 dengan 432 saham naik, 276 saham turun, dan 264 saham tidak berubah.
Meskipun naik, Investor disarankan untuk tetap waspada karena data-data ekonomi yang masih kurang baik.(*)







