BisnisInvestasiKeuanganNasional

Simak Efek Pelemahan Rupiah Terhadap Dolar AS, Apakah Akan Terulang Krismon 1998 ?

Penyebab Nilai Tukar Rupiah Melemah

Keuangan, Bericuan.id – Ekonom senior dan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI), Telisa Aulia Falianty, mengingatkan pemerintah dan otoritas moneter untuk tidak membiarkan kurs rupiah menembus level Rp 16.500/USD.

Menurutnya, bila level psikologis ini terlampaui, sentimen negatif dari pelaku pasar keuangan akan terus mengakumulasi dan berpotensi mendorong rupiah merosot hingga Rp 17.000/USD.

Dilansir dari CNBC Indonesia, Telisa mengatakan, “Probability ke Rp 17.000/USD sih ada ya. Nanti habis 17.000 mungkin ada equilibrium baru”.

Penyebab Pelemahan Rupiah

Telisa mengungkapkan bahwa level rupiah saat ini, yang berada di kisaran atas Rp 16.400/USD, merupakan hasil dari akumulasi berbagai sentimen negatif pelaku pasar keuangan. Beberapa faktor utama yang berkontribusi terhadap pelemahan rupiah meliputi:

  1. Penurunan peringkat saham Indonesia oleh Morgan Stanley.
  2. Protes terhadap skema Full Periodic Call Auction (FCA) di bursa efek.
  3. Laporan media asing mengenai potensi pelebaran defisit atau rasio utang APBN 2025.

Selain itu, ada kekhawatiran mengenai potensi defisit neraca perdagangan Indonesia yang saat ini trennya masih surplus. Penurunan harga komoditas global menyebabkan penerimaan pajak yang mulai melemah, menambah sentimen negatif terhadap nilai tukar rupiah.

Dampak Terhadap Ekonomi Indonesia

Telisa menegaskan bahwa pelemahan rupiah harus segera diantisipasi oleh pemerintah dan Bank Indonesia (BI). Jika rupiah mencapai Rp 17.000/USD, dampaknya terhadap ekonomi Indonesia akan signifikan, meski tidak sampai menyebabkan krisis moneter seperti pada 1997-1998.

Beberapa risiko yang akan dihadapi ekonomi Indonesia jika rupiah terus melemah meliputi:

  1. Inflasi yang meningkat, mengurangi daya beli masyarakat.
  2. Pertumbuhan ekonomi yang melambat, dengan target pemerintah di level 5,2% menjadi sulit tercapai.
  3. Kenaikan suku bunga, yang akan memperlambat pertumbuhan kredit.

Meski ada beberapa sektor yang diuntungkan oleh depresiasi rupiah, seperti ekspor dan pariwisata, secara keseluruhan dampak pelemahan rupiah terlalu dalam akan bersifat negatif bagi ekonomi Indonesia.

Langkah Antisipasi dan Solusi

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menyatakan bahwa pelemahan rupiah yang dipicu oleh pemberitaan dari kantor berita asing terkait kenaikan rasio utang bersifat sementara. Meski demikian, perlu ada langkah-langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas rupiah.

Untuk jangka pendek, Bank Indonesia (BI) perlu terus melakukan intervensi di pasar valas untuk menstabilkan nilai tukar rupiah. Langkah ini penting untuk meredam tekanan sementara yang berasal dari sentimen pasar keuangan global.

Untuk jangka menengah, BI harus menggalakkan kebijakan DHE (Devisa Hasil Ekspor) dan melakukan pendalaman pasar keuangan Indonesia. Kebijakan ini akan membantu meningkatkan cadangan devisa negara dan memperkuat ketahanan pasar keuangan domestik.

Dalam jangka panjang, diversifikasi ekspor sangat diperlukan agar tidak terlalu bergantung pada komoditas yang harganya cenderung berfluktuasi.

Diversifikasi tujuan ekspor juga penting untuk mengurangi ketergantungan pada pasar beberapa negara saja. Selain itu, mengurangi ketergantungan pada impor bahan baku dengan meningkatkan produksi dalam negeri akan membantu mengurangi tekanan terhadap rupiah.

Pelemahan rupiah terhadap dolar AS merupakan isu yang kompleks dan membutuhkan perhatian serius dari pemerintah dan otoritas moneter.

Dengan mengidentifikasi penyebab utama dan dampaknya terhadap ekonomi, serta menerapkan langkah-langkah antisipatif yang tepat, diharapkan rupiah dapat kembali stabil dan mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan.

Telisa dan Josua sama-sama menekankan pentingnya strategi jangka pendek, menengah, dan panjang untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Dengan demikian, Indonesia dapat menghadapi tantangan ekonomi global dengan lebih baik dan memastikan kesejahteraan masyarakat tetap terjaga.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button