Bisnis

RI setuju impor 3,5 juta ton kedelai dari AS, ini pernyataan pengusaha

Kerja Sama Perdagangan Indonesia dan Amerika Serikat

Pemerintah Indonesia telah menyetujui kerja sama perdagangan dengan Amerika Serikat melalui Agreement on Reciprocal Trade (ART). Salah satu komitmen utama dalam kerja sama ini adalah impor kedelai dari AS sebesar 3,5 juta ton per tahun selama lima tahun ke depan. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan nasional serta menjaga kelancaran distribusi bahan baku.

Ketua Asosiasi Kedelai Indonesia (Akindo), Hidayatullah Suralaga, menyampaikan dukungan terhadap kebijakan pemerintah tersebut. Menurutnya, komitmen pembelian kedelai dalam skema ART menjadi bagian penting untuk memastikan kepastian pasokan bahan baku bagi kebutuhan nasional.

“Komitmen pembelian kedelai merupakan bagian dari upaya untuk menjamin kepastian pasokan kedelai nasional dan menjaga kelancaran distribusinya,” ujar Hidayatullah dalam keterangannya, Jumat (27/2/2026).

Hidayat mengungkapkan bahwa selama ini AS merupakan mitra utama Indonesia dalam penyediaan kedelai. Kerja sama yang lebih terstruktur melalui ART diharapkan bisa memperkuat program ketahanan pangan nasional.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), total impor kedelai Indonesia pada tahun 2025 mencapai sekitar 2,56 juta ton, di mana 90% pasokan berasal dari AS. Dengan kebutuhan kedelai nasional di kisaran 2,7–2,9 juta ton per tahun, komitmen hingga 3,5 juta ton per tahun membuka ruang bagi peningkatan konsumsi kedelai untuk memenuhi kebutuhan protein nabati.

Hidayat menilai, tambahan pasokan ini berpotensi diserap melalui berbagai program pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), sekaligus memperkuat fondasi ketahanan pangan nasional.

Peluang Bagi Industri Hilir Berbasis Kedelai

Selain menjamin pasokan, Akindo juga melihat peluang besar bagi penguatan industri hilir berbasis kedelai. Produk-produk seperti tempe, tahu, susu kedelai, kecap, hingga aneka produk turunan lainnya berpotensi mengalami peningkatan kapasitas produksi.

Dengan pasokan yang lebih terjamin, pelaku usaha, termasuk sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), memiliki kepastian untuk berinvestasi, memperluas usaha, serta meningkatkan daya saing produk di pasar domestik maupun ekspor.

“Komitmen ini dapat memperkuat ekosistem industri kedelai nasional. Dengan pasokan yang lebih terjamin, pelaku usaha memiliki kepastian untuk berinvestasi, meningkatkan kapasitas produksi, dan menciptakan lapangan pekerjaan,” imbuhnya.

Harapan Akindo terhadap Implementasi ART

Meski mendukung kerja sama tersebut, Akindo berharap implementasi ART tidak mengganggu hubungan dagang yang telah terjalin antara importir swasta dengan pemasok kedelai dari negara lain. Kerja sama perdagangan ini juga diharapkan bisa tetap sejalan dengan program peningkatan produksi kedelai dalam negeri untuk memenuhi target pemerintah dalam pencapaian swasembada pangan.

Dengan adanya komitmen impor yang lebih terstruktur, diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional, khususnya dalam sektor pertanian dan pangan. Selain itu, langkah ini juga menjadi bentuk komitmen Indonesia dalam menjaga stabilitas pasokan pangan dan memperkuat ketergantungan pada sumber-sumber pangan yang andal dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button